- Bath Thailand menguat 0,08 persen
- Ringgit Malaysia menguat 0,23 persen
- Yuan China melemah 0,05 persen
- Rupee India melemah 0,03 persen
- Pesso Filipina melemah 0,10 persen
- Won Korea menguat 0,01 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,03 persen
Mata Uang Garuda Dibuka Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

- Mata uang di Asia bergerak variatif, dengan Bath Thailand menguat 0,08 persen, Ringgit Malaysia menguat 0,23 persen, dan Yuan China melemah 0,05 persen
- Rupiah diperkirakan melemah di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini karena penguatan mata uang Negeri Paman Sam setelah pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve semalam
- Pasar menunggu hasil kesepakatan dagang timbal balik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dijadwalkan pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu AS
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot melemah pagi ini. Mata uang Garuda melemeh ke level Rp16.872 per dolar AS pada perdagangan Rabu (18/2/2026).
Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka melemah 35 poin atau 0,21 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
1. Mata uang di Asia bergerak variatif
Mata uang di Asia bergerak variatif, dengan rincian
2. Rupiah akan melemah di kisaran Rp16.900 per dolar AS sore ini
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksi nilai tukar rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, seiring penguatan mata uang Negeri Paman Sam setelah pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve semalam. Sikap tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa pelonggaran kebijakan moneter di AS belum akan dilakukan dalam waktu dekat.
"Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini," tegasnya.
3. Pasar tunggu hasil kesepakatan tarif dagang
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan menandatangani kesepakatan dagang timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu AS. Finalisasi kesepakatan tersebut pun diperkirakannya akan ditunggu oleh pasar dan bisa menjadi sentimen tersendiri.
"Iya pasar dan investor akan melihat hasilnya dulu (kesepakatan final tarif dagang RI-AS)," ungkapnya.


















