Fasilitas pengolahan limbah dan sampah menjadi bahan bakar alternatif di area green zone Pabrik Narogong, Jawa Barat. (dok. SIG)
SIG menatap tahun 2026 dengan sejumlah inisiatif strategis, salah satunya melalui pengembangan fasilitas ekspor di Tuban, Jawa Timur, yang merupakan bagian dari kerja sama dengan Taiheiyo Cement Corporation. Melalui fasilitas ini, SIG menargetkan mulai melakukan ekspor pada pertengahan 2026 dengan kapasitas antara 500 ribu hingga 1 juta ton semen per tahun. Selain ekspor, kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan lini bisnis soil stabilization untuk membuka peluang pasar baru di sektor konstruksi.
Di sisi lain, SIG juga terus memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan dengan mencatatkan penurunan emisi yang signifikan. Emisi gas rumah kaca cakupan 1 berhasil turun 21 persen dibandingkan baseline 2010, sementara emisi cakupan 2 turun 15 persen dibandingkan baseline 2019. Upaya ini didukung oleh peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif seperti biomassa, refuse-derived fuel (RDF), dan limbah industri.
SIG juga terus mengembangkan energi terbarukan melalui penggunaan panel surya pada unit-unit operasionalnya, serta konversi gas panas buang menjadi energi listrik melalui teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG). Sepanjang 2025, penggunaan bahan bakar alternatif tercatat mencapai 681.567 ton, meningkat dari 550.085 ton pada 2024. Selain itu, tingkat substitusi energi panas (thermal substitution rate) juga naik menjadi 9,77 persen dari sebelumnya 7,56 persen.
“Bagi SIG, kinerja keberlanjutan tidak kalah pentingnya dengan kinerja bisnis. Bahkan SIG telah membuktikan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan bahkan saling mengisi satu dengan lainnya. SIG senantiasa meneguhkan komitmen keberlanjutan yang menjadi competitive advantage dan membuat perusahaan menjadi lebih adaptif dan berdaya saing di tengah kondisi industri domestik yang menantang dan situasi geopolitik yang dinamis,” ujar Vita Mahreyni. (WEB)