Dihantui Suku Bunga AS dan Defisit Anggaran, Rupiah Loyo di Awal Pekan

- Rupiah melemah 27 poin ke Rp17.744 per dolar AS di awal pekan, dipengaruhi tekanan eksternal dan internal yang kuat.
- Sinyal kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed serta defisit anggaran domestik memperburuk sentimen pasar terhadap rupiah.
- Meski ada harapan damai AS-Iran, rupiah diproyeksikan tetap fluktuatif dan cenderung melemah di kisaran Rp17.740–Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rapor merah pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah sebesar 27 poin atau jatuh 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan sebelumnya.
1. Sinyal suku bunga tinggi AS masih menghantui
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan dari sisi eksternal, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sinyal kebijakan moneter ketat dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pada Sabtu lalu, salah satu Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target yang ditentukan. Kemungkinan besar, pandangan ini sejalan dengan pejabat bank sentral lainnya.
"Kemudian Kevin Warsh sendiri sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika, dia mengatakan ya bahwa tidak naif ya tentang tantangan yang dihadapinya. Kemungkinan besar Kevin Warsh akan menaikkan suku bunga kalau inflasi masih cukup tinggi," kata Ibrahim.
Walaupun Presiden AS Donald Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini, pasar membaca adanya potensi era suku bunga tinggi atau higher for longer masih akan bertahan hingga akhir 2026.
Di samping itu, ketidakpastian pasar diperkirakan terus berlanjut karena pekan ini diwarnai rilis data ekonomi penting AS.
"Salah satunya adalah tentang Produk Domestik Bruto kuartal pertama tahun 2026, kemudian data perumahan, kemudian indikator inflasi pilihan Fed, kemudian indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti," ujar Ibrahim.
2. Defisit anggaran dan isu Danantara jadi momok pasar
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah justru semakin berat akibat sentimen internal yang kurang kokoh. Ibrahim menjelaskan masalah defisit anggaran masih menjadi momok utama bagi para pelaku pasar.
Dampaknya begitu kuat hingga penurunan harga minyak mentah dunia sekalipun belum mampu menghadirkan sentimen positif bagi rupiah, membuat mata uang rupiah melemah sendiri di saat mata uang negara tetangga bergerak menguat.
"Kalau dilihat dari segi internal sendiri ya kita tahu bahwa permasalahan defisit anggaran ini yang dijadikan momok ya oleh pasar," tuturnya.
Pelemahan rupiah juga dipicu lebih jauh oleh pidato kebijakan Presiden Prabowo Subianto mengenai rencana ekspor komoditas melalui satu pintu di bawah kendali badan usaha milik negara (BUMN) khusus ekspor.
Langkah itu kemungkinan memicu kecaman dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global dan lembaga lainnya, yang diproyeksikan berpotensi menurunkan rating atau peringkat utang pemerintah Indonesia.
"Kemudian yang ketiga, ya tentang kebijakan-kebijakan yang kurang pro ya terhadap pasar. Ya ini yang membuat kemungkinan besar rupiah ini masih akan terus mengalami pelemahan," kata Ibrahim.
3. Proyeksi nilai tukar rupiah di perdagangan Selasa
Ibrahim menambahkan, dinamika pasar sebenarnya sempat diwarnai sentimen positif berupa optimisme pasar akan peluang kesepakatan damai antara AS dan Iran yang diprakarsai oleh Pakistan.
Trump sempat menyatakan proses negosiasi sebagian besar berpeluang disepakati, dengan Iran yang bersedia membuka kembali Selat Hormuz. Namun, AS dilaporkan masih akan menutup diri di wilayah Laut Oman sebelum kesepakatan resmi ditandatangani.
Pasar kini menyoroti apakah nota kesepahaman tersebut benar-benar akan disepakati, mengingat masih ada perselisihan krusial mengenai kepemilikan uranium serta pencairan dana Iran yang dibekukan sejak tahun 1970-an.
Untuk perdagangan Selasa (26/5/2026), mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun tetap ditutup melemah pada kisaran rentang level Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar AS.
















