Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ratusan Triliun dari Purbaya ke Himbara Belum Bisa Kerek Kredit Bank

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu (Dok. IDN Times)
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu (Dok. IDN Times)
Intinya sih...
  • Penurunan suku bunga belum mampu tumbuhkan kredit perbankan. Pelonggaran kebijakan moneter tidak berdampak signifikan pada penurunan suku bunga kredit.
  • Daya beli yang lemah dan defisit neraca pembayaran menjadi penyebab lambatnya pertumbuhan kredit .perbankan.
  • Perlambatan kredit lebih dipengaruhi oleh faktor demand, terutama pada kredit konsumsi dan UMKM.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu menilai pertumbuhan kredit perbankan masih terlampau kecil kendati bank-bank negara telah diguyur ratusan triliun rupiah oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa.

Untuk diketahui, Purbaya beberapa waktu lalu mengalihkan ratusan triliun saldo anggaran lebih (SAL) ke sejumlah bank negara (Himbara). Hal itu dilakukan Purbaya dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memacu penyaluran kredit di sektor riil.

"Kebijakan-kebijakan pemerintah lain yang memengaruhi ekonomi di tahun ini, tentunya ada peningkatan likuiditas melalui penempatan dana SAL di perbankan. Ternyata hal itu belum diterjemahkan menjadi peningkatan kredit. Ini apakah masalah waktu? Pertumbuhan kredit masih di bawah 10 persen, di 7,9 persen. Jadi belum kelihatan dampaknya kepada peningkatan kredit," tutur Mari dalam Economic Outlook 2026, Kamis (19/2/2026).

1. Penurunan suku bunga belum mampu tumbuhkan kredit perbankan

Logo Bank Indonesia. Shutterstock/Harismoyo
Logo Bank Indonesia. Shutterstock/Harismoyo

Di sisi lain, pelonggaran kebijakan moneter juga masih belum menunjukkan peran dalam menumbuhkan kredit perbankan.

Dalam paparannya, Mari menjelaskan Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuannya dari 6 persen hingg 4,75 persen sepanjang 2025.

"Ternyata walaupun BI menurunkan suku bunganya dari 6 persen menjadi 4,75 persen dalam satu tahun terakhir ini, hal itu juga belum mendorong penurunan suku bunga kredit yang signifikan dan akhirnya menciptakan permintaan," kata dia.

2. Melemahnya daya beli dan defisit neraca pembayaran

ilustrasi bank
ilustrasi bank (vecteezy.com/MUHAMMAD NUR)

Mari menambahkan, ada masalah daya beli yang kemudian menyebabkan lambatnya pertumbuhan kredit perbankan. Selain itu defisit neraca pembayaran yang menjadi penyebab tertekannya nilai tukar rupiah juga disebut Mari jadi salah satu faktor melambatnya kredit perbankan domestik.

"Masalah demand untuk kredit ini mungkin ada kaitannya tentunya dengan pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya dan lemahnya daya beli dan seterusnya. Defisit neraca pembayaran meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jadi walaupun kita balance of trade atau export minus import positif, ternyata capital outflow yang menyebabkan pelemahan sekitar empat persen dari rupiah di tahun lalu," tutur Mari.

3. Perlambatan kredit dipengaruhi faktor demand

Group CEO, PT Bank Rakyat Indonesia​ (Persero) Tbk, Hery Gunardi, dalam salah satu sesi di Paviliun Indonesia, Davos, Swis
Group CEO, PT Bank Rakyat Indonesia​ (Persero) Tbk, Hery Gunardi, dalam salah satu sesi di Paviliun Indonesia, Davos, Swis pada Selasa (20/01/2026). (IDN Times/Alya Achyarini)

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atauBRI, Hery Gunardi mengungkapkan, berdasarkan data survei Bank Indonesia (BI), perlambatan kredit saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor demand.

Permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen terutama kredit konsumsi dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen dan UMKM dari 78,4 persen menurun menjadi 58,8 persen. Di sisi lain, rata-rata undisbursed loan justru meningkat menjadi sebesar 10,22 persen.

"Artinya, fasilitas kredit yang sudah disetujui oleh bank dan likuditas sudah sedia, tetapi realisasi penarikan tertahan. Ini mencerminkan sikap wait and see dari dunia usaha dan juga rumah tangga sebagai nasabah individu. Jadi, tantangannya bukan pada supply dana, tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan," tutur Hery.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Daftar 11 Kerja Sama Strategis Perusahaan RI-AS, Total Rp650 Triliun!

19 Feb 2026, 16:18 WIBBusiness