Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jangan Pernah Belanja dalam Keadaan Lapar, Efeknya Bahaya!

ilustrasi belanja
ilustrasi belanja (freepik.com/senivpetro)
Intinya sih...
  • Rasa lapar meningkatkan keinginan memiliki lebih banyak barang.
  • Konsumen yang merasa lapar menghabiskan uang hingga 64% lebih banyak.
  • Lapar meningkatkan dorongan memiliki barang non-makanan tanpa meningkatkan tingkat kesukaan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak, kamu masuk toko cuma niat beli satu barang, tapi keluar dengan banyak belanjaan tambahan? Kondisi lapar sering jadi pemicu keputusan belanja yang sulit dikontrol. Banyak orang mengira efek lapar hanya berlaku saat membeli makanan, padahal faktanya juga berdampak pada pembelian barang non-makanan, lho.

Kebiasaan belanja saat perut kosong terlihat sepele, tapi bisa membawa konsekuensi serius untuk keuangan. Kalau kamu sering belanja setelah melewatkan jam makan, risiko ini semakin besar. Yuk, pahami efek berbahaya belanja dalam keadaan lapar supaya kamu bisa lebih bijak mengatur pengeluaran mulai sekarang.

1. Dorongan membeli barang jadi lebih besar

ilustrasi belanja barang
ilustrasi belanja barang (pexels.com/Sam Lion)

Dilansir Forbes, penelitian yang dilakukan oleh University of Minnesota’s Carlson School of Management menemukan bahwa rasa lapar dapat meningkatkan keinginan seseorang untuk memiliki lebih banyak barang. Dalam salah satu eksperimen, peserta yang belum makan selama minimal empat jam diminta mengikuti survei tentang binder clip. Kelompok yang sebelumnya mencicipi kue meminta produk jauh lebih sedikit dibanding kelompok yang tetap lapar. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang lapar meminta hingga 70 persen lebih banyak barang.

Alison Jing Xu, asisten profesor pemasaran di Carlson School of Management, menjelaskan bahwa rasa lapar membuat pikiran berada dalam kondisi “mencari dan memperoleh”. Pola pikir ini gak hanya berlaku untuk makanan, tapi juga menyebar ke benda lain di sekitar. Akibatnya, kamu menjadi lebih gampang tergoda untuk mengambil atau membeli barang apa pun yang tersedia. Situasi ini membuat rencana belanja awal sering kali gagal total.

2. Pengeluaran bisa melonjak tanpa disadari

ilustrasi nota pengeluaran
ilustrasi nota pengeluaran (pexels.com/Kaboompics.com)

Dalam penelitian lain, peneliti mengamati 81 konsumen yang baru saja berbelanja di department store dengan produk utama berupa pakaian, sepatu, dan elektronik. Para pembeli diminta menunjukkan struk belanja serta mengisi kuesioner tentang suasana hati dan tingkat lapar mereka. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsumen yang merasa lebih lapar menghabiskan uang hingga 64 persen lebih banyak dibanding mereka yang tidak terlalu lapar. Temuan ini memperlihatkan bahwa kondisi fisik sangat memengaruhi keputusan finansial.

Alison Jing Xu menyampaikan bahwa lapar membuat seseorang masuk ke dalam mode memperoleh barang secara umum. Pikiran gak lagi fokus pada kebutuhan utama, melainkan pada keinginan untuk memiliki lebih banyak hal. Dalam konteks belanja, mode ini hampir selalu berujung pada pengeluaran lebih besar. Jika kebiasaan ini terjadi berulang, anggaran bulanan bisa cepat kacau tanpa kamu sadari.

3. Membeli barang yang sebenarnya gak terlalu disukai

ilustrasi belanja baju
ilustrasi belanja baju (pexels.com/Liza Summer)

Dalam studi lain yang dilakukan pada orang-orang yang masuk dan keluar dari sebuah kafe saat jam makan siang, peserta diminta menilai sepuluh produk. Lima produk berupa makanan, sementara lima lainnya adalah barang non-makanan seperti USB flash drive atau layanan spa. Peserta juga diminta menilai tingkat lapar serta seberapa ingin mereka memiliki produk tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa rasa lapar meningkatkan keinginan memiliki barang non-makanan, tapi gak meningkatkan tingkat kesukaan terhadap barang itu sendiri.

Alison Jing Xu menjelaskan bahwa lapar gak membuat seseorang lebih menyukai suatu produk, melainkan hanya meningkatkan dorongan untuk memilikinya. Kondisi ini membuatmu bisa membeli barang yang sebenarnya terasa biasa saja setelah sampai di rumah. Perasaan menyesal sering muncul karena barang tersebut gak terlalu berguna atau gak sesuai ekspektasi. Kebiasaan ini bisa membuat rumah penuh dengan barang yang jarang dipakai.

4. Risiko belanja impulsif semakin tinggi

Ilustrasi belanja impulsif
Ilustrasi belanja impulsif (pexels.com/ Alexandra Maria)

Rasa lapar membuat kontrol diri melemah karena tubuh lebih fokus pada kebutuhan dasar. Pikiran menjadi kurang rasional saat menilai apakah suatu barang benar-benar penting atau hanya menarik sesaat. Situasi ini menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya belanja impulsif. Kamu bisa dengan mudah mengeluarkan uang hanya karena tergoda diskon atau tampilan produk.

Alison Jing Xu menjelaskan bahwa episode lapar ringan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat melewatkan sarapan atau bekerja melewati jam makan siang. Kebiasaan tersebut berpotensi memicu pembelian tak terencana, terutama untuk barang non-makanan. Tanpa disadari, kartu debit atau kartu kredit lebih sering digunakan untuk hal-hal yang gak masuk daftar kebutuhan. Jika dibiarkan, pola ini bisa membentuk perilaku konsumtif jangka panjang.

Belanja dalam keadaan lapar bukan hanya soal membeli makanan lebih banyak, tapi juga memengaruhi keputusan membeli barang non-makanan. Penelitian menunjukkan bahwa rasa lapar dapat meningkatkan dorongan memiliki barang, memperbesar pengeluaran, serta memicu belanja impulsif. Kondisi ini berisiko merusak pengelolaan keuangan jika terjadi terus-menerus.

Cara paling sederhana untuk menghindarinya adalah makan terlebih dahulu atau membawa camilan ringan sebelum pergi belanja. Dengan perut kenyang dan pikiran lebih tenang, kamu bisa berbelanja secara rasional sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Business

See More

24 Perusahaan Asing Bakal Garap Proyek Sampah Jadi Listrik

19 Feb 2026, 14:09 WIBBusiness