Melihat harga saham yang tiba-tiba turun hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) bisa membuat investor panik. Apalagi jika penurunannya terjadi dalam waktu singkat dan saham tersebut sebelumnya terlihat menjanjikan. Di sisi lain, kondisi seperti ini juga sering dianggap sebagai kesempatan. Harga yang sudah jatuh cukup dalam terlihat lebih murah sehingga muncul pertanyaan: apakah saham yang ARB justru sedang memberikan peluang untuk membeli di harga diskon?
ARB bukan tanda bahwa sebuah saham sudah murah. Sebaliknya, ARB hanya menunjukkan bahwa harga saham telah mencapai batas penurunan harian yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI menjelaskan bahwa auto rejection merupakan mekanisme ketika sistem perdagangan secara otomatis menolak pesanan yang berada di luar rentang harga tertentu. Ketentuan ini dibuat antara lain untuk menjaga perdagangan tetap teratur dan mengendalikan volatilitas. Lantas, bagaimana investor sebaiknya melihat saham yang sedang ARB?
