Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.156, Pasar Cermati Konflik Iran

Rupiah ditutup melemah ke Rp18.156 per dolar AS setelah bergerak dalam rentang Rp18.125 hingga Rp18.167.
Pasar mencermati konflik Timur Tengah, pertemuan FOMC, data PCE AS, dan pemilihan paruh waktu AS.
Rupiah diproyeksikan fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026). Rupiah ditutup di level Rp18.156 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, posisi tersebut melemah 21 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.135 per dolar AS.
Rupiah sempat menguat hingga Rp18.125 per dolar AS sebelum kembali bergerak melemah. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp18.125 hingga Rp18.167 per dolar AS.
1. Upaya damai Timur Tengah belum menghilangkan kekhawatiran pasar
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai perkembangan konflik di Timur Tengah masih menjadi salah satu sentimen yang dicermati pelaku pasar. Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan terus berlangsung, tetapi risiko konflik kembali meluas masih membayangi pergerakan pasar keuangan.
Pada Senin (26/10/2026), pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran. Pertemuan tersebut bertujuan meredakan ketegangan regional sekaligus membuka jalur negosiasi untuk mencegah kembali terjadinya eskalasi militer.
Qatar juga terlibat dalam upaya diplomatik dengan menjalin komunikasi bersama Teheran. Sejumlah pembahasan mencakup serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, kemungkinan negosiasi antara AS dan Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serta blokade Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Reuters melaporkan, pertemuan di Teheran menjadi salah satu upaya negara-negara kawasan untuk mencegah konflik semakin meluas. Namun, belum ada kepastian bahwa langkah diplomatik tersebut dapat menghasilkan kesepakatan damai yang bertahan lama.
"Upaya diplomatik ini telah membantu meredakan kekhawatiran mendesak mengenai eskalasi militer lebih lanjut, namun para investor tetap bersikap hati-hati terkait apakah upaya tersebut akan menghasilkan de-eskalasi yang langgeng," kata Ibrahim.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump masih membuka kemungkinan tindakan militer lanjutan terhadap Iran. Teheran juga menyatakan bahwa negosiasi dengan Washington memerlukan sejumlah konsesi, termasuk penghentian blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
Risiko terhadap pasokan energi global turut menjadi perhatian karena konflik mengganggu pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Kedua jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia.
2. Pasar menanti keputusan The Fed dan data inflasi AS
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan agenda kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan kalender resmi The Fed, pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berlangsung pada 27-28 Oktober 2026. Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Rabu (28/10/2026) waktu AS setelah pertemuan tersebut.
Pernyataan Warsh akan dicermati investor untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya. Meski demikian, konferensi pers tersebut belum tentu memberikan panduan resmi mengenai keputusan kebijakan berikutnya.
Suku bunga AS menjadi perhatian pasar karena memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga dapat memengaruhi arus investasi global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Selain itu, investor menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis (29/10/2026). PCE merupakan indikator yang mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dan menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menilai inflasi.
Data tersebut diharapkan memberikan petunjuk tambahan mengenai tekanan harga di AS dan kemungkinan arah kebijakan suku bunga.
"Di samping itu, para investor juga bersiap menghadapi pemilihan paruh waktu AS pada 3 November nanti," ujar Ibrahim.
3. Proyeksi pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya, Rabu (28/10/2026). Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.150 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Sementara itu, untuk perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.
Dalam data yang sama, rentang pergerakan rupiah selama 52 minggu terakhir berada di level Rp16.566 hingga Rp18.209 per dolar AS. Sementara secara year-to-date (ytd) rupiah tercatat melemah 8,85 persen.





















