Yen Tembus Level Terlemah sejak 1986, Jepang Siaga Penuh Hadapi Krisis

- Yen jatuh ke ¥162,66 per dolar AS, level terendah sejak 1986, akibat selisih suku bunga Jepang-AS dan lonjakan harga minyak yang menekan ekonomi nasional.
- Pemerintah Jepang menggelontorkan sekitar Rp1.180 triliun untuk intervensi pasar demi menahan pelemahan yen serta menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.
- Pelemahan yen memberi dorongan bagi ekspor dan pariwisata, namun masyarakat tetap terbebani kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok meski ada subsidi pemerintah.
Nilai tukar yen kembali menjadi sorotan dunia setelah anjlok hingga menyentuh ¥162,66 per dolar Amerika Serikat (AS), level terlemah sejak 1986. Pelemahan ini memicu kekhawatiran karena bisa berdampak pada harga barang, biaya impor, hingga kondisi ekonomi Jepang secara keseluruhan. Pemerintah Jepang pun menyatakan siap mengambil tindakan kapan saja untuk menjaga stabilitas pasar jika gejolak terus berlanjut.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga hingga konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Meski terdengar mengkhawatirkan, pelemahan yen ternyata juga membawa sejumlah keuntungan bagi sektor tertentu. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana Jepang berusaha mengatasi situasi ini?
1. Penyebab utama yen terus melemah

Salah satu penyebab terbesar melemahnya yen adalah perbedaan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat. Bank of Japan (BoJ) memang telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1 persen, level tertinggi dalam sekitar 31 tahun. Namun, angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan suku bunga di AS sehingga aset berbasis dolar tetap menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor.
Kondisi ini membuat banyak investor meminjam yen dengan bunga rendah, lalu mengalihkan dana tersebut ke investasi di luar Jepang yang memberikan keuntungan lebih besar. Arus modal yang keluar dari Jepang akhirnya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sekaligus menekan nilai yen. Analis pasar Axel Rudolph dari IG menjelaskan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga AS semakin memperlebar selisih kebijakan moneter kedua negara sehingga dolar semakin diminati pasar.
Selain itu, pemerintah Jepang juga menghadapi dilema. Jika BoJ menaikkan suku bunga terlalu agresif untuk memperkuat yen, biaya pinjaman di dalam negeri akan meningkat dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, bank sentral harus menjaga keseimbangan antara mengendalikan inflasi dan mempertahankan momentum pemulihan ekonomi.
2. Lonjakan harga minyak ikut menekan ekonomi Jepang

Faktor lain yang membuat yen semakin tertekan adalah kenaikan harga minyak dunia. Jepang merupakan negara yang miskin sumber daya alam sehingga sangat bergantung pada impor energi. Sebelum konflik terbaru di Timur Tengah, sekitar 95 persen impor minyak Jepang berasal dari kawasan tersebut.
Situasi menjadi semakin rumit setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengganggu stabilitas pasokan energi global. Kekhawatiran terhadap distribusi minyak melalui Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak. Karena minyak diperdagangkan menggunakan dolar AS, Jepang harus menukarkan lebih banyak yen untuk membeli jumlah minyak yang sama.
Akibatnya, biaya impor energi meningkat tajam dan memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar yen. Kenaikan harga energi juga mendorong biaya produksi berbagai sektor industri sehingga perusahaan harus mengeluarkan pengeluaran yang lebih besar. Pada akhirnya, beban tersebut ikut dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga berbagai barang dan jasa.
3. Ada keuntungan dari yen lemah, tapi masyarakat juga menanggung bebannya

Melemahnya yen ternyata gak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi Jepang. Nilai tukar yang lebih rendah membuat produk-produk Jepang menjadi lebih murah di pasar internasional. Hal ini meningkatkan daya saing eksportir Jepang, terutama perusahaan otomotif, elektronik, dan berbagai industri manufaktur yang selama ini mengandalkan pasar luar negeri.
Selain itu, sektor pariwisata juga menikmati keuntungan besar. Wisatawan asing berbondong-bondong datang ke Jepang karena biaya belanja, penginapan, dan liburan menjadi relatif lebih murah jika dibandingkan dengan negara asal mereka. Gak heran jika jumlah kunjungan wisatawan internasional terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, keuntungan tersebut gak dirasakan secara merata. Masyarakat Jepang justru harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar, listrik, makanan, hingga berbagai barang impor lainnya. Pemerintah memang memberikan subsidi energi untuk menahan lonjakan harga, tapi inflasi tetap sulit dihindari karena perusahaan akhirnya meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen. Bahkan, kenaikan harga kebutuhan pokok sempat memicu ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan sebelumnya.
4. Jepang rela menggelontorkan lebih dari Rp1.100 triliun demi menahan pelemahan yen

Menghadapi tekanan yang terus membesar, pemerintah Jepang gak tinggal diam. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan membeli yen dan menjual dolar AS menggunakan cadangan devisa negara. Tujuannya adalah meningkatkan permintaan terhadap yen sehingga nilainya bisa kembali menguat dan gejolak pasar dapat diredam.
Berdasarkan data pemerintah Jepang, negara tersebut menghabiskan sekitar 11,7 triliun yen untuk intervensi pada periode akhir April hingga akhir Mei 2026. Nilai tersebut setara sekitar US$73 miliar atau kurang lebih Rp1.180 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp16.170 per dolar AS. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Jepang dalam menjaga stabilitas mata uangnya agar pelemahan gak berlangsung semakin dalam.
Meski demikian, intervensi bukanlah solusi yang bisa dilakukan terus-menerus. Pemerintah Jepang juga rutin memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa mereka siap kembali turun tangan kapan saja jika pergerakan yen dianggap terlalu berlebihan. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi aksi spekulasi yang mempercepat pelemahan mata uang Jepang.
5. Tantangan Jepang belum selesai meski suku bunga sudah naik

Kenaikan suku bunga Bank of Japan menjadi 1 persen, level tertinggi dalam sekitar 31 tahun, memang menjadi langkah penting untuk memperkuat yen. Namun, banyak ekonom menilai kebijakan tersebut belum cukup untuk mengubah arah pergerakan mata uang Jepang secara signifikan. Selama selisih suku bunga dengan Amerika Serikat masih lebar, investor diperkirakan tetap akan memilih aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Ekonom Michael Wan dari MUFG Bank menjelaskan bahwa pemerintah Jepang dapat mendorong dana milik lembaga pensiun dan perusahaan asuransi untuk kembali diinvestasikan di dalam negeri. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap yen sekaligus mengurangi arus modal yang mengalir ke luar negeri. Menurutnya, pemerintah juga perlu menjaga disiplin fiskal dan tetap memberikan ruang bagi Bank of Japan untuk menjalankan kebijakan moneternya secara independen agar kepercayaan pasar tetap terjaga.
Dengan kata lain, tantangan Jepang bukan sekadar mengembalikan nilai tukar yen ke level yang lebih kuat. Pemerintah juga harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, stabilitas harga energi, dan kepercayaan investor. Jika salah satu aspek tersebut terganggu, tekanan terhadap yen berpotensi kembali meningkat meski berbagai kebijakan telah diterapkan.
Pelemahan yen hingga menyentuh ¥162,66 per dolar AS, level terendah sejak 1986, menjadi bukti bahwa kondisi ekonomi global masih dipenuhi tantangan. Perbedaan suku bunga dengan Amerika Serikat, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik, hingga tingginya ketergantungan Jepang terhadap impor energi menjadi faktor utama yang mendorong melemahnya mata uang tersebut. Di sisi lain, kondisi ini juga memberikan keuntungan bagi sektor ekspor dan pariwisata, meski masyarakat tetap harus menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Jepang telah mengeluarkan berbagai langkah, termasuk menggelontorkan sekitar Rp1.180 triliun untuk menopang yen dan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Namun, banyak analis menilai upaya tersebut belum cukup jika selisih suku bunga dengan negara lain masih lebar. Bagi kamu yang mengikuti perkembangan ekonomi global, situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar mata uang gak hanya dipengaruhi kondisi dalam negeri, tapi juga dinamika ekonomi dan politik dunia yang saling berkaitan.








![[QUIZ] Tes Seberapa Siap Kamu untuk Mulai Berbisnis Dari Quiz Ini!](https://image.idntimes.com/post/20230920/startup-594090-1280-d6d6a0f4e90d5fb0c2c5b5669d828c83.jpg)







![[QUIZ] Dari Golongan Darahmu, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20240228/lisanto-fjxa21l-ihw-unsplash-a5b9962b3fc7f3cf62c097d65b42212c.jpg)



