Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Alunan yang Dibungkam

1 min read
[PUISI] Alunan yang Dibungkam
ilustrasi alunan (pexels.com/cro-magnon)
  • Puisi mempertanyakan ketimpangan kepemilikan tanah dan penegakan hukum yang dinilai tunduk pada kekayaan serta kekuasaan.

  • Suara buruh, petani, dan ibu digambarkan lahir dari tekanan hidup, kerja keras, serta ketidakpastian masa depan generasi.

  • Kata-kata diposisikan sebagai perlawanan terhadap pembungkaman, demi mengguncang keangkuhan ketika kebenaran dan keadilan sulit diperjuangkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Katanya, negeri ini milik bersama,
tetapi mengapa tanah kami hanya menjadi milik sebagian mereka?
Katanya, keadilan berdiri sama tinggi,
tetapi mengapa hukum selalu berlutut di hadapan emas dan kursi?

Kami adalah suara dari lorong-lorong sempit,
dari peluh buruh yang pecah dan getir,
dari punggung petani yang dipaksa membungkuk,
dari rahim ibu yang melahirkan generasi,
tanpa pernah dijanjikan masa depan yang pasti.

Jika kebenaran harus dibeli dengan diam,
biarlah suara kami menjadi memecah gelegar malam.
Jika keadilan dikurung di balik gerbang,
biarlah kata-kata menjelma gelombang,
mengguncang tembok-tembok keangkuhan.

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article

    Curated For You

    Editorial Team