Katanya, negeri ini milik bersama,
tetapi mengapa tanah kami hanya menjadi milik sebagian mereka?
Katanya, keadilan berdiri sama tinggi,
tetapi mengapa hukum selalu berlutut di hadapan emas dan kursi?
Kami adalah suara dari lorong-lorong sempit,
dari peluh buruh yang pecah dan getir,
dari punggung petani yang dipaksa membungkuk,
dari rahim ibu yang melahirkan generasi,
tanpa pernah dijanjikan masa depan yang pasti.
Jika kebenaran harus dibeli dengan diam,
biarlah suara kami menjadi memecah gelegar malam.
Jika keadilan dikurung di balik gerbang,
biarlah kata-kata menjelma gelombang,
mengguncang tembok-tembok keangkuhan.
![[PUISI] Alunan yang Dibungkam](https://image.idntimes.com/post/20261030/pexels-cro-magnon-175407258-38827735_adebef4b-c361-4ca4-b28f-b2939ac58746.jpg)