Ada rindu yang tumbuh tanpa suara,
Tersembunyi di antara luka dan nestapa.
Namamu tinggal dalam ingatan yang fana,
Meski waktu perlahan menghapus cerita.
Kenangan tersusun seperti serpihan kaca,
Tajam terasa saat disentuh kembali jiwa.
Kucari dirimu di sela-sela aksara,
Namun yang tersisa hanya bayang semata.
Rindu memiliki anatomi tersendiri,
Ada hati yang patah, ada harap yang mati.
Ada doa yang diam-diam terus menemani,
Meski pemiliknya tak lagi peduli.
Kini kubiarkan waktu menjadi penawar,
Melepas kisah yang tak mungkin berputar.
Sebab tak semua rindu harus dikejar,
Ada yang cukup dikenang, lalu dibiarkan pudar.