Dahulu, banjir seolah rutinitas
Tak peduli seberapa sakit
Kupilih mengalir dulu saja di pipi
Meski keluh dipandang terlalu berisik

Lalu kutahan embun sedikit lebih lama
Sampai nanti hujan akhirnya menjelma
Namun mereka kira terlampau perasa
Acuhkan muasal terbit di baliknya

Jadi kupaksa menguap sebelum tercipta
Malah dianggap tak alami luka
Padahal duka begitu kencang bergema
Hanya semakin mahir sembunyikan lara

Nyatanya terlepas dari air mata
Reda bukan berarti sirna
Sebab jejak patah tetap tersisa
Dan senyum takkan secerah biasanya