anjing-anjing menggonggong di kepalaku, berisik sekali
lebih riuh dari lalu-lalang kota yang menelan klason dan makian
ke dalam paru-paru malam.

taman-taman di dalamnya layu,
menjelma belukar gersang
yang tak lagi mengenal cara kerja embun.

beri aku sedikit gerimis, Tuhan
meski cuma setetes untuk membahasai retak di dahi
yang terlalu lama dipanggang cemas.

tetapi aku terlampau kemarau,
hujan menjelma guntur di ubun-ubun;
petir-petir kecil memaku tengkorakku dari dalam.

aku berjalan dengan kepala seperti rumah terbakar,
asapnya keluar dari mata,
sedang mulutku sibuk mengeja pura-pura.

Tuhan, jika memang waras
adalah kemampuan menyembunyikan luka,
maka malam ini
izinkan aku gila sebentar saja.