Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Cinta yang Bersembunyi di Lipatan Kening
ilustrasi seorang ayah (pexels.com/tima miroshnichenko)

Ayah adalah kamus yang kehilangan kata lelah,
meski punggungnya ditekuk hari dan kakinya berulang kali patah.
Ia tak pernah pandai merangkai rindu menjadi kalimat yang manis,
namun setiap tetap peluhnya adalah doa agar anak-anaknya tak menangis.

Aku jarang melihatnya meneteskan air mata di depan meja makan,
ia menyimpan seluruh badai dunia di balik keteguhan yang dipaksakan.
Cintanya tidak mewujud dalam pelukan yang erat dan hangat,
melainkan pada motor tua yang ia engkol subuh-subuh dengan semangat,
dan pada lembaran uang SPP yang disodorkannya tanpa pernah mengungkit berat.

Kini, rambut yang dulu sehitam jelaga mulai memutih perak,
dan langkah gagah itu perlahan berubah menjadi ketukan yang jarak.
Di dalam guratan wajahnya yang kian menua dan ringkih,
aku membaca bab demi bab tentang pengorbanan yang paling gigih.

Ayah, maaf jika aku sering terlambat mengeja arti diammu.
Malam ini, dalam sujud yang sunyi kubisikkan rasa terima kasihku:
sebab di atas pundakmu yang mulai rapuh dimakan waktu,
kamu telah membangun jembatan agar aku bisa menjemput mimpiku.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team

EditorAtqo Sy