di ujung jalan yang retak seperti harapan,
langkah-langkah tua berjalan tanpa suara,
menghindari batu-batu janji pemimpin
yang tertanam tanpa akar.
daun-daun berguguran
menandai pergantian musim,
tapi bukan musim panen,
melainkan musim utang.
seorang ibu memanggul pagi
di atas kepalanya: keresek hitam,
di dalamnya: minyak, debu, dan kesabaran.
di hatinya: anak-anak yang belum sarapan.
tangannya tak sempat merias wajah,
karena hidup terlalu buru-buru untuk cantik.
ia berdiri di pasar seperti patung
yang menjual daging, tapi tak punya daging sendiri.
saat matahari menggantung di langit seperti hutang,
ia membuka lapak harap
di bawah bendera merah yang lusuh,
berharap satu sen pun cukup untuk beli esok.
di meja dagangannya:
rempah-rempah, terasi, dan kemiskinan.
di matanya: kantung-kantung berisi
doa yang belum dikabulkan.
harga naik setiap minggu,
tapi senyumnya tetap konstan—
senyum orang yang sudah berdamai
dengan rasa pahit pada lidah dan dompet.
orang-orang lewat,
menawar tomatnya, bukan nasibnya.
mereka tak tahu bahwa di rumah
anaknya tak lagi menangis—karena lapar pun bisa lelah.
langkahnya pulang
diiringi sore yang mengintip dari sela gedung
tempat orang-orang berdasi
menentukan berapa harga beras bulan depan.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Ibu Memanggul Pagi
![[PUISI] Ibu Memanggul Pagi](https://image.idntimes.com/post/20240827/img-2230-b07c618aa8bfd5ed09d295005e1c5e1f-c60b53e8b92c8dfe76cf1d2d2a17e420.png)
ilustrasi seseorang berdiri di tebing (pixabay.com/kanhaiskan)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorNabila Inaya
Related Article
[PUISI] Kau yang Hadir dari Layar29 Oct 2026, 09:51 WIB
[PUISI] Kebaikan yang Menolak Padam29 Oct 2026, 09:31 WIB
[PUISI] Belajar Mengeja Makna Kehidupan29 Oct 2026, 07:25 WIB
[PUISI] Halaman Monokrom Kosong29 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Bertahan Hidup di Negeri yang Sakit28 Oct 2026, 22:27 WIB
[PUISI] Mencari Panggung Sendiri28 Oct 2026, 22:25 WIB
[PUISI] Semusim yang Tak Kunjung Henti28 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Para Pemuda Menyatukan Keberanian28 Oct 2026, 17:47 WIB
[PUISI] Belajar Memahami Hidup28 Oct 2026, 09:48 WIB
[PUISI] Dunia Hanya Menghargai Hasil28 Oct 2026, 06:25 WIB
[PUISI] Ketika Derita Menjadi Pemandangan28 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Aku Pergi Sebelum Hilang27 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Hari Hujan Telah Tiba27 Oct 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Kau yang Kusemogakan27 Oct 2026, 10:07 WIB
[PUISI] Menara Gading27 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Di Balik Tirai Kelabu27 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Menjadi Dewasa dan Kuburan Asa di Kepala26 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Perjamuan Terakhir Elegi26 Oct 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Kabar yang Tak Pernah Datang26 Oct 2026, 15:07 WIB
[PUISI] Mencari Teduh26 Oct 2026, 11:48 WIB