Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[PUISI] Kami Menari di Atas Pecahan Lampu

[PUISI] Kami Menari di Atas Pecahan Lampu
ilustrasi menari (pexels.com/Luis miguel Ruiz gongora)

Kita tak sedang jatuh cinta.
Kita hanya dua tubuh resah
yang tak tahu caranya tenang,
lalu saling mendekat
untuk membuktikan
bahwa luka pun butuh teman.

Aku menghunus diriku
setiap kali kau datang—
bukan untuk melukai,
hanya untuk mengingatkan
bahwa bahagia bisa berbahaya
jika datang dari seseorang
yang tak pernah benar-benar tinggal.

Kau menyalakan lampu
di ruangan penuh retak,
lalu menyuruhku menari,
meski tahu kakiku berdarah
dan musiknya tak pernah henti
menyakitkan.

Namun aku tetap di sana.
Bukan karena cinta,
tapi karena takut
tak ada lagi yang akan memintaku tinggal
dengan luka sebanyak ini.

Dan ketika cahaya padam,
kita masih berdansa
di atas pecahan lampu
yang kita pecahkan sendiri.
Tak ada yang berhenti.
Tak ada yang benar-benar ingin sembuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Ketidakberdayaan Menghamba

09 Mar 2026, 16:47 WIBFiction
[PUISI] Meminta Cahaya

[PUISI] Meminta Cahaya

08 Mar 2026, 21:48 WIBFiction
[PUISI] Doa-Doa dalam Diam

[PUISI] Doa-Doa dalam Diam

08 Mar 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Cacat Perspektif

[PUISI] Cacat Perspektif

08 Mar 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Makhluk Lelucon

[PUISI] Makhluk Lelucon

06 Mar 2026, 13:07 WIBFiction
[PUISI] Perjanjian Sunyi

[PUISI] Perjanjian Sunyi

06 Mar 2026, 05:15 WIBFiction