Puluhan tahun merangkai lelah dari pintu ke pintu
Menggulung doa di sudut kontrakan yang semu
Kini sebuah atap hadir membasuh debu
Tempat senja seharusnya pulang tanpa rasa ragu

​Namun darah daging datang membawa janji manis
Membungkus ambisi dengan tawa yang puitis
Sertifikat berpindah tangan saat tinta melukis
Meninggalkan orang tua dalam tangis yang tipis

​Bangunan kos itu kini tegak setengah mati
Menjadi monumen bisu dari mimpi yang tak pasti
Cicilan datang mencekik seperti musim yang keji
Memaksa mereka kembali menjadi tamu di rumah sendiri

​Sungguh tidak ada sunyi yang lebih menyayat
Selain melihat rumah sendiri sedang sekarat
Luka terdalam lahir dari tangan yang dirawat
Mengkhianati kasih yang dulu dijaga dengan berkat