Di bawah langit-langit kamar yang mulai hafal rahasia,
aku duduk mengeja nasib di antara baris-baris lowongan.
Ijazah itu masih tersimpan rapi, sewangi doa ibu,
tetapi dunia di luar sana terasa seperti gerbang yang terkunci.

Ada lelah yang berbeda dari mereka yang pulang bekerja,
yakni lelah mencari tempat untuk sekadar meletakkan tenaga.
Setiap notifikasi adalah detak jantung yang tertunda,
lalu berakhir menjadi sunyi yang kembali menyapa.

Aku bukan malas, aku hanya sedang menunggu giliran,
menata kembali pecahan percaya diri yang sempat terserak.
Sebab, aku tahu nilai diri tidak ditentukan oleh slip gaji
dan langkah yang terhenti sejenak bukan berarti mati.

Tuhan, izinkan aku tetap tegak di antara pandangan yang menghakimi,
menenun sabar hingga tiba saatnya aku bisa kembali memberi arti.