Satu langkah, melangkah lari
kaki-kaki kecilnya melesat pergi
mengejar kaki para pelari
yang bersiap diri dari pagi
Dua langkah dalam satu kali,
satu pelari berbelok ke kiri
satu pelari berbelok ke kiri
tapi kaki-kakinya mulai menepi
Derap langkah seperti melodi
menelisik ke dalam relung hati
berbisik jika langkahnya tak pasti
berbisik ia kalah dalam berlari
Langkahnya benar-benar berhenti
ia menarik diri dari lintasan lari
menepi di sudut, berteman dengan kalut
bertanya-tanya kenapa ia berlari?
Pelari-pelari telah habis melewati
dia masih diam, hilang diri tanpa arti
bertanya-tanya pada hati, kenapa jadi pelari?
padahal tahu ia tak sanggup untuk berlari
Sepasang sepatu tertawa-tawa
menyuruhnya melihat jauh sebelum pagi
sejak dini hari dia berlari sendiri
lantas menyamai langkah para pelari
Bukan kalah yang harus diratapi,
sejak awal ia lari sendiri
sejak dini hari lawannya bukan pelari
melainkan diri sendiri sebagai pelari
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Lawannya Bukan Pelari
![[PUISI] Lawannya Bukan Pelari](https://image.idntimes.com/post/20260218/pexels-pixabay-34514_36c4c2d0-d7f5-4fd6-9dab-e39a1ff15e50.jpg)
ilustrasi lomba lari (pexel.com/Pixabay)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us