Dulu kita meminjam keberanian dari langit,
Melukis hari esok tanpa pernah takut jatuh.
Namun waktu perlahan menggunting sayap kita,
Menyisakan sepasang kaki yang dipaksa terus patuh.
Kini ada sepetak tanah sunyi di rongga kepala,
Tempat kita memakamkan angan yang gagal tumbuh.
Ia menjelma deretan nisan tanpa nama,
Yang diam-diam kita ziarahi saat malam mulai luruh.
Orang-orang melihat kita sebagai wujud yang utuh,
Berjalan tegap menembus hari yang kian menyusut.
Padahal di balik dada yang terlihat begitu kukuh,
Ada anak kecil yang sendirian memeluk lutut.
Lalu aku bertanya
Jika menjadi dewasa hanyalah merawat nisan di kepala,
Untuk apa dulu kita diajarkan merakit asa,
Bila pada akhirnya menyerah adalah satu-satunya cara?
![[PUISI] Menjadi Dewasa dan Kuburan Asa di Kepala](https://image.idntimes.com/post/20261023/elimende-inagella-lz7enbomtsu-unsplash_1c1fb6ff-5152-4d26-a0f9-ba5facd51bb3.jpg)