Di pelataran waktu yang kian berjelaga
kupulungi detik yang tanggal satu demi satu
ada sisa jejak yang enggan menjelma doa
tertinggal di antara riuh dendam dan bisu
Pernah kusekap malam dalam genggaman jemari
menuntut takdir menyerahkan kembali yang tanggal
namun senyap adalah guru paling sunyi
mengajar dada bahwa menolak luka adalah sia-sia yang bebal
Telah kutinggalkan pertikaian di hulu kenangan
membuka jendela bagi angin yang belajar singgah
bukan karena serah pada kekalahan
melainkan tahu kapan harus meletakkan lelah
![[PUISI] Menjahit Sunyi di Hulu Usia](https://image.idntimes.com/post/20260730/scott-warman-pgguv23z1fc-unsplash_00eefcaa-93ba-46a7-a7b2-8d2efcf0d926.jpg)