Tak ada lagi tergesa di antara langkah yang menua
kubiarkan embun menetas pelan di ujung dedaunan
kuberlari menembus angin tanpa jeda
mengeja setiap detik yang tertinggal di perhentian
Kuterima malam yang pernah memberi lebam
sebagai bagian dari lukisan yang hampir selesai disempurnakan
tak perlu lagi kupaksa bunga mekar dalam semalam
sebab setiap tunas punya jalannya sendiri untuk bertahan
Di bawah naungan langit yang belajar memudar terang
kutata kembali serakan doa yang pernah kuanggap hilang
sebagaimana jauh jarak yang telah kutempuh
agar tetap tenang di saat runtuh
![[PUISI] Menyimpan Pagi di Telapak Tangan](https://image.idntimes.com/post/20260731/pexels-mart-production-7220101_6b1c806e-bdc1-416b-ae4d-1b7a9f6160d7.jpg)