Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Menyimpan Pagi di Telapak Tangan
ilustrasi berdoa (pexels.com/MART PRODUCTION)

Tak ada lagi tergesa di antara langkah yang menua

kubiarkan embun menetas pelan di ujung dedaunan

kuberlari menembus angin tanpa jeda

mengeja setiap detik yang tertinggal di perhentian

Kuterima malam yang pernah memberi lebam

sebagai bagian dari lukisan yang hampir selesai disempurnakan

tak perlu lagi kupaksa bunga mekar dalam semalam

sebab setiap tunas punya jalannya sendiri untuk bertahan

Di bawah naungan langit yang belajar memudar terang

kutata kembali serakan doa yang pernah kuanggap hilang

sebagaimana jauh jarak yang telah kutempuh

agar tetap tenang di saat runtuh

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team