Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Negeri yang Katanya Baik-Baik Saja

[PUISI] Negeri yang Katanya Baik-Baik Saja
ilustrasi kemiskinan. (Pixabay.com/TheOtherKev)
  • Puisi menggambarkan janji menuju kondisi lebih baik yang terasa kontras dengan awan gelap, badai, serta penantian rakyat terhadap realisasi janji pemilu.
  • Rakyat disebut dijanjikan sebagai prioritas, tetapi janji itu digambarkan sebagai ilusi yang memudar di tengah pengelolaan anggaran serampangan dan kenaikan harga.
  • Puisi mempertanyakan klaim bangsa kuat ketika perbedaan suara dianggap gangguan, kritik dicurigai sebagai kebencian, dan pihak yang bersuara mengalami pembungkaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Katanya,
Negeri ini sedang menuju terang
Meski yang terasa hanya awan gelap dan badai tanpa henti
Dengan tangan yang menggenggam janji-janji manis dari musim pemilu
Kami masih menunggu hari itu

Katanya rakyat akan menjadi yang utama
Tetapi itu hanyalah ilusi semata
Sebatas janji manis
Yang perlahan terkikis

Kami melihat anggaran digelontorkan serampangan
Sementara harga-harga tumbuh lebih tinggi daripada harapan
Di mana terang yang kaujanjikan?

Katanya,
Kita akan menjadi bangsa yang kuat
Tetapi mengapa suara yang berbeda terdengar seperti gangguan?
Mengapa kritik harus selalu dicurigai sebagai kebencian?
Mengapa mereka yang bersuara dibungkam sedemikian rupa?

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article
    Editorial Team