Nalar berlomba peringatkan bahaya
Namun hanya serupa lirih tanpa daya
Seakan hatilah pusat kendali utama
Dan ragaku tunduk pada titahnya

Entah sudah berapa ribu persona
Tak satu pun mendekap tanpa tanya
Ironisnya, mereka beranjak dengan segera
Seolah niat hanyalah melepas dahaga

Tapi mungkin saja, akulah antagonis
Sebab alur yang kuperankan berulang
Memang selalu berakhir tragis
Anehnya ... masih saja cerita kulakoni

Kini, yang tersisa hanyalah jelaga
Dan kakiku mulai lelah melanglang buana
Sebab, mengapa bersusah arungi semesta
Jika ia hanyalah neraka yang terencana