Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Reruntuhan Cahaya
ilustrasi cahaya malam (pexels.com/Milada Vigerova)

Malam menumpahkan arang ke langit
dan bintang-bintang menyala seperti luka yang indah
di tubuh gelap yang tak pernah sembuh.

Angin mengunyah sisa-sisa hari
lalu meludahkannya menjadi dingin
yang menempel di kulit kenangan.

Waktu berjalan pincang
menyeret bayang-bayang yang kelelahan
di lorong-lorong yang tak memiliki arah.

Di dalam dada
ada kota yang perlahan runtuh
batu demi batu
tanpa suara, tanpa peringatan.

Pikiran menjadi lautan retak
di mana ombak tak lagi pecah
hanya mengendap seperti rahasia
yang terlalu berat untuk dilupakan.

Dan cahaya
tidak lagi datang sebagai terang
ia hadir sebagai serpihan
yang jatuh satu per satu
menjadi reruntuhan yang berkilau.

Barangkali hidup bukan tentang utuh
melainkan tentang bagaimana kita
tetap berdiri
di tengah runtuhnya cahaya

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎