Aku adalah kalimat yang belum usai diketik,
beradu dengan deru mesin waktu dan cangkir kopi yang mendingin.
Di antara riuh tren yang datang dan pergi seperti musim,
ada suara yang mencoba tetap jernih: suaraku sendiri.
Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai,
tapi tentang bagaimana aku merangkai makna pada setiap luka,
menenun harapan di antara benang-benang rindu yang usang,
dan menjadi rumah bagi diri sendiri saat dunia terasa asing.
Aku adalah pengelana di antara tumpukan diksi,
mencari kejujuran dalam setiap baris yang kutulis.
Tak perlu menjadi rembulan untuk menerangi malam,
cukup menjadi pelita kecil yang enggan padam.
![[PUISI] Sajak di Balik Jendela](https://image.idntimes.com/post/20260423/pexels-ufoops-8271868_cbdcfc08-a64f-4f1f-ad8e-595f7198d6db.jpg)