Hujan luntur
Bintangnya redup
Pelangi berpaling
Memayungi nabastala
Bahagia mengikat sepi
Rintiknya ditarik luka
Bertahan pada ribuan rasa
Menyentuh temaram
Langit membuka bayangnya
Pesona asmara yang menggigil
Bercahaya di depan rembulan
Mengendap di relung jiwa
Aku membara sendirian!
Air mata yang sembunyi
Haruskah kutelan gerimis ini?
Petir mencerna rinduku setelahnya
Apakah ia terguyur memori sekarang?
Seperti aku yang basah dengan duka
Sepatuku kotor karena egonya!
Merana menempel sejak lama
Nostalgia dimakan waktu
Dibatasi realitas
Kamuflase cinta
Pada bentangan kata
![[PUISI] Satu Rintik Berbeda Rasa](https://image.idntimes.com/post/20260710/pexels-denniz-futalan-339724-12394049_baba921c-4204-420a-b3d5-804ed77ee1fc.jpg)