Dalam malam yang temaram
Kau sendirian tanpa teman
Beban kau jadikan kawan
Kaki untuk pelukan
Malam semakin kelam
Aroma hujan semakin menekan
Pikiran-pikiran yang tertimbun sekam
Muncul ke permukaan menambah beban
Malam semakin menakutkan
Kesepian semakin menekan
Dalam temaram terdengar sebuah rapalan,
"Tolong, tolong dengarkan doaku Tuhan."
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Sebuah Rapalan
ilustrasi orang ketakutan (pexels.com/MART PRODUCTION)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorDebby Utomo
Related Article
[PUISI] Ruang yang Tak Perlu Didatangi02 Nov 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Tangan Penyambut Waktu02 Nov 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Negeri yang Sibuk Mengukur Bahagia02 Nov 2026, 15:07 WIB
[PUISI] Demokrasi Telah Mati, Kita yang Membunuhnya02 Nov 2026, 14:48 WIB
[PUISI] Ruang untuk Merindu02 Nov 2026, 10:48 WIB
[PUISI] Cinta yang Revolusioner02 Nov 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Tiada Guna02 Nov 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Ku Eja Namamu01 Nov 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Semua yang Runtuh Karena Ego01 Nov 2026, 20:17 WIB
[PUISI] Mengagumi dalam Diam01 Nov 2026, 18:07 WIB
[PUISI] Adalah Kau Kekasih01 Nov 2026, 11:25 WIB
[PUISI] Bukan Rumah yang Kehilangan Penghuni01 Nov 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Berteman dalam Khayal Sendiri31 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Tuhan, Turunkan Hujan 31 Oct 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Dewasa Karena Keadaan31 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Suka yang Tak Bersua31 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Harga Sebuah Mimpi30 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Alunan yang Dibungkam30 Oct 2026, 16:07 WIB
[PUISI] Langit yang Mengizinkanku Menyapamu30 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Negeri yang Pandai Berpura-pura30 Oct 2026, 05:04 WIB