Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Rebah yang Dirindukan

[PUISI] Rebah yang Dirindukan
Ilustrasi rebahan (unsplash.com/Annie Spratt)
Share Article

Pernah ada musim,
tatkala rebah tak lebih lama dari senja.
Cahaya merapikan diri ke sudut-sudut rumah.

Malam menyapa dengan kedua tangan kosong.
Tak ada yang terbawa ke seberang pagi.

Hingga musim berganti.
Rebah masih kembali pada tubuh yang sama.

Namun, ia tak lagi hadir sebagai tempat usai.
Hanya tubuh yang terbaring,
sedang hari tak kunjung memejamkan diri.

Maka rebah pun tak selalu sampai pada reda.
Bahkan setelah jendela-jendela mengatupkan malam,
masih ada yang belum selesai dipulangkan.

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article

    Curated For You

    Editorial Team