Comscore Tracker

[CERPEN] Aku, Dia, dan Lelaki dalam Hidup Kami

Aku merasa ada lebam di hatiku

Saat ini dia berdiri di hadapanku dengan tatapan yang sama. Seperti delapan tahun lalu. Selalu hangat bak fajar pagi, juga melumpuhkan hati. Delapan tahun lalu–meski tak lama–dia pernah menjadi bagian dari hari-hariku, mewarnai masa remajaku. Meninggalkan cerita manis dan getir yang masih tertoreh di hati. Detik ini juga kubiarkan kenangan mengambil alih waktu, melemparku ke masa lalu.

Sekolah baru berarti lingkungan baru, teman-teman baru, dan hari-hari baru siap menyambutku tatkala Mama dimutasi ke tempat kerja baru. Sesungguhnya, hidup kami memang tidak sama lagi sejak kepergian Papa. Ya, Papa meninggalkan aku dan Mama tanpa sebaris kalimat perpisahan pun yang Papa tinggalkan untukku. Sulit kupercaya dan kumengerti, bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal itu kepada aku, anak tunggalnya? Bukankah aku buah dari cinta mereka? Memikirkan kenyataan itu terlalu menyakitkan buatku.

Selama setahun, aku melihat Mama dan Papa seolah tak pernah lelah saling melontarkan kata-kata dengan nada tinggi. Kata-kata yang saling melukai. Malamnya, aku sering melihat Mama menangis lirih di dalam kamar dan paginya aku terlalu takut untuk bertemu tatap dengan mata sembap Mama. Aku merasa ada lebam di hatiku. Sementara Papa, pergi entah ke mana. Hanya deru mobil Papa yang kudengar menjauh.

Sejak itu, Papa tidak lagi kerasan berada di rumah. Bagi Papa, kami bukan lagi rumah yang membuatnya rindu untuk pulang. Saat itu, aku masih kelas satu SMP. Sulit kumengerti, bagaimana pasangan yang dulu saling mencintai berubah saling menyakiti. Sejak itu, aku menolak untuk percaya bahwa cinta sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Sampai seorang cowok–seorang kakak kelas–di sekolahku yang baru mematahkan kepercayaan itu.

Hansel Mikael, dengan tatapannya yang sehangat fajar pagi, perlahan meyakinkan aku bahwa cinta patut diperjuangkan. Saat aku masih belum bisa menerima kehilangan orang terkasih dalam hidupku dan masih meratapi kesedihanku, cowok itu berhasil menyentuh hatiku dan mengubah hidupku. Kedekatan kami–mungkin–karena kami sama-sama menyimpan akar pahit dalam hidup kami. Luka yang ditorehkan orang tua kami.

Bagiku, Hansel sosok yang membuat aku nyaman dengan segala bentuk perhatian yang dia berikan. Sosok yang hangat dan sangat menghargai perempuan. Sosok yang santun.

Aku melihat bagaimana Hansel mengasihi dan menjaga mamanya dengan sepenuh hati. Meski papanya yang tak bertanggung jawab meninggalkan mereka demi perempuan lain, tetapi ia memiliki hati yang besar untuk mengampuni (sesuatu yang sulit aku lakukan). Membuang egonya dan memutuskan berdamai dengan hatinya dengan menerima kembali lelaki yang telah menyakiti dia dan mamanya dengan baik hingga Tuhan memanggil lelaki itu dalam keadaan sakit.

Entah mengapa, sejak pertama kali mengenal Hansel, ada dorongan kuat dalam hatiku untuk memercayainya dan membiarkan dia masuk dalam kehidupanku, meghangatkan hatiku, dan mendebarkan jantungku.

Hansel selalu menyediakan sepasang bahunya untuk aku bersandar, menghapus air mataku, menghalau kabut di mataku, dan mengizinkan dia mencabut akar pahit yang tumbuh di hatiku. Perlahan, dia telah meyakinkan aku bahwa Tuhan sedang membuat rancangan-Nya yang terbaik untuk hidupku. Aku begitu percaya, tetapi ....

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Kalian tidak pacaran, ‘kan?” tanya Mama hati-hati ketika Hansel mengantarku ke rumah dan berbincang cukup lama dengan Mama. Aku melihat kabut tipis di mata Mama dan tatapan terluka tak berdaya. Seketika, aliran dingin seakan menyergapku.

Aku tidak menjawab. Namun, kurasa Mama tahu kalau aku menyimpan asa padanya. Mataku terlalu banyak bercerita sehingga Mama selalu bisa membacanya. Sulit bagiku untuk membohongi perasaanku sendiri. Menyukai Hansel adalah hal terbaik yang pernah aku rasakan sejak kepergian Papa.

Sesaat kemudian, Mama melepas napas berat dan panjang. Mama membawaku ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggungku perlahan.

Lalu, meluncurlah rahasia yang Mama simpan selama ini. Tentang Papa, tentang kepergian Papa, dan alasan Mama melepas Papa pergi tanpa ada surat cerai. Alasan Mama tak mengizinkan Papa menemui dan meneleponku. Malam itu pula, Mama tak ragu lagi menerima pemindahan tugas ke luar pulau.

Lidahku terlalu kelu untuk berujar. Sementara silet berhasil menggurat hatiku yang belum sepenuhnya sembuh dari luka. Belum genap setahun menetap, aku harus pindah sekolah lagi. Kami, ibu dan anak, larut dalam kesedihan dan aku harus merasakan kembali luka yang teramat dalam. Bukan hanya aku, Mama juga.

Sejak  malam itu–satu hari  yang  tetap tersimpan abadi di ingatanku–aku memutuskan berhenti menyimpan asa tentang seorang Hansel. Suatu hari nanti–entah kapan–aku yakin kami pasti bertemu. Saat itu tiba, aku pastikan, aku telah berdamai dengan hatiku.

Hari ini, dia ada di hadapanku. Butuh waktu delapan tahun untuk kami bertemu. Dia masih sama. Sosok yang membuatku nyaman dengan tatapan fajar paginya. Tatapan yang tidak pernah gagal melumpuhkan hatiku. Sesaat kemudian baru kusadari, mungkin karena ada ikatan yang kuat di antara kami.

“Apa kabar, Kak? Lama tidak bertemu. Aku Grace Amarise Lawalata, adikmu. Terima kasih telah menjadi kakakku, Hansel Mikael Lawalata,” ujarku dengan uap panas yang menerjang mataku, mengaburkan pandanganku, dan menyempitkan dadaku.

Ya, butuh waktu delapan tahun bagi kami untuk bertemu. Tepatnya, aku yang berhasil berdamai dengan hatiku. Menerima kenyataan bahwa sosok yang ada di hadapanku saat ini adalah kakakku, anak Papa, dan memaafkan diriku sendiri karena aku dan Mama pernah merampas lelaki terindah dalam kehidupan mereka.***

Baca Juga: [CERPEN] Lelaki yang Becermin di Telaga

Ana Lydia Photo Verified Writer Ana Lydia

God's plan is always more beautiful than our desire

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya