Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Kisah Secangkir Latte Art: Kau Mengalihkan Duniaku

[CERPEN] Kisah Secangkir Latte Art: Kau Mengalihkan Duniaku
pixabay.com

Malam ini aku termenung dalam penantian. Gadis manis yang beberapa malam belakangan menjadi pelanggan setia coffee shop ini, telah mencuri perhatianku. Dia seolah mengalihkan duniaku yang hanya berisi kopi, hobi sekaligus penyambung hidupku. 

Aku selalu mengingat semua hal tentang dia. Waktu kedatangannya, tempat duduk favoritnya juga kopi pesanannya, latte dengan pola indah selain love latte art.

Aku tak tahu kenapa dia begitu antipati pada love art, padahal itu selalu menjadi top request. Suatu saat nanti akan kutanyakan langsung padanya.

Lalu tiba-tiba suara pintu membuyarkan lamunanku. Gadis itu datang lagi, tepat jam delapan malam. Seperti biasa dia langsung menuju tempat kesayangannya, sudut dekat jendela yang menghadap ke jalan. 

"Stop, Don! Malam ini aku yang akan menghampiri gadis itu," ucapku pada Doni, pegawai sekaligus sahabat terbaikku.

"Siap, Bos! Tapi rasanya aku yang sedang dia cari. Lihatlah, matanya mulai berputar-putar mencari wajah tampanku. Hahaha."

"Ah diam kau! Jangan berani-berani menampakkan batang hidungmu malam ini. Dia hanya akan memberi senyum cantiknya itu padaku. Cuma aku!"

Doni memang sangat memahami gelagatku yang sangat tertarik pada gadis ini. Aku akui, aku mampu menaklukkan banyak gadis, tapi tak satupun dari mereka yang mampu menaklukkan hatiku. Dan gadis ini, entah punya sihir apa hingga hatiku langsung berlutut mengharap kesediaan hatinya.

"Selamat malam, Nona Manis, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" sapaku lembut padanya. Dia hanya terdiam, memandangiku penuh tanya. Rasanya mata indah itu sejenak melirik ke dadaku dan membaca namaku. Aku pun mencoba menebar rayuan padanya, "Nona Manis, apa kau masih di bumiku? Atau sudah melayang kembali ke nirwana?"

Sejenak aku percaya dia terpesona padaku, pasti karena ucapanku atau paling tidak karena senyumanku. Lalu senyuman sinisnya seketika menghapus kesombonganku. Apa yang gadis ini pikirkan? Belum sempat lamunan membawaku, aku akhirnya hanya mampu berlalu setelah dia menyebutkan pesanannya tanpa basa basi.

"Silakan. Latte spesial untuk Ocha yang cantik."

"Eh kok Mas tahu namaku?" tanyanya penuh heran.

"Itu ra...ha...si...aa..."

Aku berharap dia mau membuka hati pada uluran candaku, tapi rasanya aku salah. Aku malah melihat kebencian di matanya, entah itu tertuju padaku atau ulahku. Semoga aku salah, semoga itu bukan kebencian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Di Mana Aku Kembali

03 Mar 2026, 20:17 WIBFiction
[PUISI] Menitip Doa

[PUISI] Menitip Doa

03 Mar 2026, 05:15 WIBFiction
[PUISI] Bius Standar Ganda

[PUISI] Bius Standar Ganda

02 Mar 2026, 13:07 WIBFiction
[PUISI] Jiwa yang Lapuk

[PUISI] Jiwa yang Lapuk

02 Mar 2026, 05:15 WIBFiction
[PUISI] Hilang

[PUISI] Hilang

01 Mar 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Kopi Tanpa Asap

[PUISI] Kopi Tanpa Asap

01 Mar 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Kepada Ibu

[PUISI] Kepada Ibu

28 Feb 2026, 05:15 WIBFiction
[PUISI] Untuk Anakku

[PUISI] Untuk Anakku

27 Feb 2026, 05:15 WIBFiction
[PUISI] Serambi Kosong

[PUISI] Serambi Kosong

26 Feb 2026, 14:47 WIBFiction