Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Unsubscribe Hidup

[CERPEN] Unsubscribe Hidup
ilustrasi wanita sedih (pexels.com/Keenan Constance)

"Kadang hidup nggak nanya seberapa kuat kamu, tapi sejauh mana kamu bisa senyum sambil nyembunyiin luka yang nggak kelihatan".

Aruna menatap layar laptop yang terang tapi kosong. Sudah satu jam lebih dia cuma duduk, buka dokumen, lalu menutupnya lagi. Deadline makin dekat, tapi pikirannya makin jauh.

Seminggu terakhir, hidup rasanya kayak aplikasi trial yang nggak bisa dibatalkan. Bangun pagi, pura-pura semangat, kerja, buka medsos, ngebandingin diri, tidur. Lalu ulang lagi.

Di tengah malam yang sunyi, Aruna membuka Notes di hapenya. Tangannya mengetik satu kalimat yang nggak dia sangka bakal terasa terlalu jujur:

“Kalau hidup bisa di-unsubscribe, gue udah pencet tombolnya dari tadi.”
Bukan karena dia pengin mati. Tapi karena dia lelah. Lelah berpura-pura kuat, lelah jadi ‘anak yang diandalkan’, lelah jadi versi paling bisa dimengerti oleh semua orang kecuali dirinya sendiri.

Ia meletakkan ponselnya di meja. Tapi aneh, layar menyala lagi sendiri. Bukan notif chat. Bukan email. Tapi tampilan aplikasi yang belum pernah dia lihat:

“Life Subscription”
Tap untuk mengelola langganan hidupmu.
Aruna mengernyit. "Ini beneran?" Tapi jarinya udah keburu menyentuh layar.

Halaman baru terbuka. Ada satu tombol besar:

“Keluar dari Langganan Hidup – Tap Here”
Seketika dadanya terasa kosong. Tapi juga... entah kenapa, lega.

Lalu muncul pertanyaan:

“Yakin mau berhenti hidup?”
Ia nggak langsung jawab. Sebaliknya, layar menampilkan potongan video dari hidupnya. Saat dia memeluk sahabatnya yang patah hati. Saat dia tertawa keras karena kucing tetangga masuk ke kamarnya. Saat dia diam di halte, menangis pelan, tapi tetap berdiri sampai hujan reda.

Potongan-potongan kecil itu yang selama ini dia anggap remeh ternyata adalah bukti bahwa dia pernah hadir, pernah berarti.

Ternyata nggak harus jadi luar biasa buat layak bertahan.
Layar berubah jadi hitam, lalu muncul satu pesan terakhir:

“Kamu nggak harus kuat setiap hari. Cukup hidup satu hari lagi. Nanti kita pikirin lagi sama-sama.”

Air mata Aruna jatuh pelan. Malam itu, dia nggak nyelesaian pekerjaannya. Tapi dia tidur lebih tenang. Dan besoknya, dia bangun dengan satu kalimat baru di notes-nya:

“Gue belum bisa unsubscribe, tapi hari ini gue coba lanjut satu episode lagi.”

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Pelajaran dari Kulit Keriput Kakek

18 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[CERPEN] Sampai Mati

[CERPEN] Sampai Mati

17 Apr 2026, 06:38 WIBFiction
[PUISI] Sang Pemilih

[PUISI] Sang Pemilih

17 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Ritmeku Sendiri

[PUISI] Ritmeku Sendiri

15 Apr 2026, 17:47 WIBFiction
[PUISI] Sisa Tawa di Dada

[PUISI] Sisa Tawa di Dada

15 Apr 2026, 05:04 WIBFiction