Di antara dua dunia aku berdiri
Bukan sulung yang diagungkan
Bukan bungsu yang dimanjakan
Hanya sunyi yang jadi teman hati

Di antara riuh tawa kakak dan manja si bungsu
Aku berdiri bagai bayang yang sayup tak tentu
Langkah sunyi di lorong rumah sendiri
Mencari arti hadir diri ini yang sering diingkari

Tak disebut paling tua, tak pula paling kecil
Hanya penengah yang dianggap pengisi
Hati yang kerap retak dalam diam yang panjang
Mendambakan rindu pada kasih yang jarang

Wahai dunia, dengarkan ratapan diriku yang rawan
Aku bukan bayang yang mudah dilupakan
Aku hanya anak tengah dengan hati yang tulus
Mendamba kasih meski hanya setitik halus