Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PROSA] Tepik

[PROSA] Tepik
ilustrasi bangunan (unsplash.com/Zoe)

Di pelataran masjid, aku terduduk, beristirahat sejenak sekaligus melepas penat dari tugas akhir dengan perbaikan yang menumpuk. Sudah tak terhitung berapa kali tangan ini mengelap peluh, bukan hanya karena terik matahari yang menyengat, tetapi juga karena deadline yang mendesak. Sudah tak terhitung pula berapa kali mulut ini mengeluh, seakan menyalahkan apa pun yang dinilai menghalang, seakan menerima dengan berat hati apa pun yang dirasa bukan keinginan ataupun harapan.

Sedikit lagi. Batinku di antara suara samar dari orang-orang yang tengah duduk menunggu azan Duhur berkumandang atau orang-orang yang sekadar menepi. Diri ini sebenarnya tak kuasa menunggu lebih lama atau sedikit lebih lama lagi tatkala orang-orang telah berbondong-bondong hampir sampai kepada garis finish-nya. Ah, padahal, diri ini juga sudah menyadari bahwa kehidupan sangat erat dengan kompetisi dan manusia selalu berada dalam ‘kebisingan’ dunia. Sayangnya, pikiran itu tak mau mengalah apalagi mengapresiasi diri, pikiran itu terus saja bersorak, “Kenapa langkahmu begitu kecil dibanding mereka?”. “Kenapa kamu tidak bisa secepat mereka?”.

Kembali aku menghela napas panjang. Kali ini aku merasa sedikit lebih lega. Sedikit lagi, batinku. Dan puluhan rencana pun bagai memenuhi kepalaku. Terasa begitu sesak dan melelahkan.

“Aku takut ... takut karena tidak bisa memaksimalkan ibadahku di tahun ini pada kenyataannya,” ucap seorang perempuan di sebelahku kepada temannya dengan suara pelan tetapi jelas. Tiba-tiba saja isak tangis terdengar di antara mereka berdua meski samar. Aku terdiam, turut mendengarkan percakapan mereka yang mungkin saja sudah berlangsung beberapa menit lalu.

“Sungguh, aku juga merasa begitu. Aku sering bertanya pada diri sendiri, mengapa tahun ini rasanya begitu berat, tetapi aku justru semakin menjauh dari Tuhanku.” Suara perempuan yang membalas perkataan temannya itu parau. Aku tidak dapat melihatnya, tetapi aku dapat mengetahui bahwa kali ini ia tengah menahan tangisnya, menahan air matanya untuk tidak banyak terjatuh.

Aku terdiam, merasa disadarkan.

Ya Tuhan, lalu bagaimana dengan aku yang jarang mempertanyakan hubunganku dengan-Mu dan yang biasa saja kala merasa semakin menjauh dari-Mu. Bagaimana dengan aku, yang kerap kali disibukkan dengan tugas-tugasku tanpa selalu mengingat akan-Mu.

Aku terdiam, merasa ditampar. Di pelataran masjid ini, orang-orang duduk menunggu azan atau sekadar menepi, membawa urusan akhiratnya ataupun dunianya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Riani Shr
EditorRiani Shr
Follow Us

Related Articles

See More

[PUISI] Mendekap Ego

18 Mei 2026, 14:07 WIBFiction
[PUISI] Permata Pudar

[PUISI] Permata Pudar

18 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Merayakan Mimpi

[PUISI] Merayakan Mimpi

17 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Esok Tanpamu

[PUISI] Esok Tanpamu

17 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Bawa Aku Pergi

[PUISI] Bawa Aku Pergi

15 Mei 2026, 21:08 WIBFiction
[PUISI] Di Mana Suamiku?

[PUISI] Di Mana Suamiku?

15 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Senyum Kecil

[PUISI] Senyum Kecil

14 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Persimpangan Hari

[PUISI] Persimpangan Hari

13 Mei 2026, 10:07 WIBFiction