Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rumah Rombe - BAB 3

Rumah Rombe - BAB 3
Dok. Storial

-Rachel-

ANJING ANJING KESAYANGAN

**

Pindah ke suatu tempat baru, berarti akan menemui orang-orang baru, suasana baru, adat baru, dan segala yang baru. Hal yang sebelumnya bukan kebiasaanmu. Apalagi jauh dari kampung halamanmu. Keluarga Bu Rombe, aslinya dari Sumatra. Sebelumnya pernah tinggal di Jakarta sekitar dua tahunan. Di sana, Rachel punya banyak teman. Di sana, Rachel diperbolehkan memelihara anjing. Teman-temannya menyenangi anjing-anjing Rachel. Tiga ekor anjing husky. Anjing yang tampan, kalau Rachel boleh bilang.

Tiga anjing husky itu pemberian pamannya di Jakarta. Di rumah pamannya anjing husky banyak sekali. Keluarga pamannya seperti sengaja membiarkan anjing-anjing itu beranak pinak.

 “Ada yang dijual Om?” tanya Rachel kepada pamannya.

“Memangnya Om miskin sampai harus menjual anjing? Anjing itu bukan barang dagangan, Rachel. Mereka makhluk hidup.”

Rachel sangat setuju dengan itu. Karena itu, Rachel diberi tiga anak anjing husky untuk dibesarkan. Pamannya mengajarinya cara merawat husky. Ketika Bu Rombe memutuskan pindah ke desa ini, Rachel cukup berat, karena saat itu tiga ekor anjingnya sedang sakit. Tidak bisa diajak bepergian naik mobil. Namun, pamannya berjanji akan merawat mereka itu sampai sembuh, lalu mengantarkannya ke sini. Rachel jadi tidak terlalu berberat hati lagi. Dia bahkan menghitung hari. Pamannya berjanji akan membawa mereka ke sini satu minggu setelah Rachel sampai.

Namun, ternyata membutuhkan waktu lebih lama, sekitar dua minggu lebih. Rachel yang begitu antusias di awal ketika sampai di rumah barunya, jadi senewen. Hampir setiap hari dia menelepon pamannya menanyakan kabar anjingnya. Sampai-sampai Tomi mencandainya. “Sudahlah Kak, ganti pelihara kambing saja. Toh banyak di desa ini.” Tomi memang pendiam dan pemurung, tetapi kalau lagi iseng, sangat menyebalkan.

Rachel membentak Tomi. “Kamu saja sana! Mukamu persis kambing.”

Bentakan macam itu tidak mempan buat Tomi. “Atau kalau tidak, ganti saja husky-husky itu dengan cowok-cowok di sekolah. Mereka toh sama saja.”

Rachel mengusir Tomi dari kamarnya.

Sudah dua minggu Rachel tinggal di rumah baru ini, di Desa Wingit. Suasananya benar-benar seratus delapan puluh derajat dari kota. Di sini, malam lebih cepat turun. Lebih gelap. Lebih hening. Awalnya dia cukup antusias, ingin mengenal sekitar. Namun, tanpa kehadiran tiga husky-nya, semua rasanya hambar. Baru empat hari, Rachel sudah malas bersosialisasi keluar rumah. Dia mengurung diri di kamar, berkali-kali dalam sehari menelepon paman di Jakarta.

Di tiga hari awal, Rachel senang saja ditemani Panji mengenal Desa Wingit. Dia senang diboncengi sepeda ontel yang tinggi sekali. Melintasi jalan desa, berhenti di pinggir sawah mengintip siput, bersantai sore sejuk di pinggir sungai, bertamu ke setiap rumah penduduk. Rachel merasa diterima di desa itu. Namun, apalah semua itu kalau tidak ada tiga anjingnya. Rachel bercerita tentang tiga husky itu kepada Panji.

“Wah, jarang sekali warga sini melihat anjing bagus seperti itu. Paling banter, anjing liar, seringnya mereka berakhir kena gebukan warga.” Rachel jadi sedih mendengar itu.

“Oh oh, maaf. Kalau husky-mu datang, aku akan pasang badan. Aku akan ikut melindungi husky-mu,” kata Panji.

“Mereka jinak, kok,” kata Rachel.

Rachel jadi dilema. Antara ingin sekali anjingnya datang dan juga lebih baik jangan. Nanti bagaimana kalau dia mau ajak anjingnya jalan-jalan. Rachel takut dengan tanggapan warga desa. Desa ini mayoritas muslim yang dia tahu menjauhi anjing. Lalu mendengar perkataan Panji tentang nasib anjing liar, menambah dilema. Namun, Rachel kangen ketiga husky-nya!

Malam-malam, Rachel sering terserang rindu. Beberapa kali dia terjaga karena merasa mendengar gonggongan anjingnya. Setengah sadar, dia langsung bangkit dari tempat tidur lalu keluar kamar dan turun ke lantai satu. Kemudian dia linglung karena baru sadar anjingnya belum ikut serta ke rumah ini. Rachel memanggil nama-nama mereka. “Hansen, Jansen, Donjon!” Tomi sampai terbangun.

“Hoi, ngigau manggil-manggil anjing. Berisik!”

Rachel tidak menggubris Tomi. Memang benar, Hansen, Jansen dan Donjon belum ikut kemari. Namun, Rachel yakin sekali dia mendengar mereka memanggil Rachel. Gonggongannya sama persis. Rachel jadi merinding. Dia salah menoleh, tatapannya tepat ke mata potret tunggal Mbah Putri. Rachel menggigil, dia segera berlari masuk kembali ke kamar.

Ia mimpi bertemu ketiga anjingnya. Namun, mereka tidak loncat-loncat di tanah, melainkan terbang. Mata mereka putih. Anehnya, mereka bertiga menyatu, seperti Cerberus. Anjing mitos berkepala tiga. Hanya saja dalam versi husky. Mereka menyalak menyedihkan. Membuat Rachel makin sedih.

“Sabar ya, Rachel,” kata ibunya selalu. “Hal baik selalu datang kepada mereka yang bersabar.”

“Iya, Ma.”

“Mama juga kangen sama Hansen, Jansen dan Donjon.”

Rachel memeluk Bu Rombe.

“Saran Mama, jangan berlebihan begitu kalau menelepon Om, takut mengganggu. Nanti, jadi nggak fokus merawat husky-mu bagaimana?”

Rachel mengangguk, dia setuju dengan ibunya. Setelah itu, Rachel menelepon pamannya dan meminta maaf. Lalu dia berubah semringah dan jingkrak-jingkrak. “Mama! Om katanya sedang perjalanan ke sini. Hansen, Jansen dan Donjon sudah sehat!”

Rachel jadi bersemangat lagi. Sepulang sekolah, dia pergi ke rumah Panji untuk bercerita. Panji turut senang mendengarnya. Dia berjanji akan ikut mengawasi anjing-anjing itu agar jangan sampai menyerang warga.

“Sudah kubilang, mereka itu jinak,” kata Rachel.

“Tidak ada salahnya kan mengantisipasi. Takutnya kalau anjingnya sudah jinak, manusia yang belum. Hehe.”

“Ah mas Panji bisa aja.”

Pamannya tiba esok harinya. Dia berjanji akan langsung menjemput Rachel dan Tomi di sekolah sementara Bu Rombe pergi ke pabrik. Rachel meminta Panji datang ke rumah sore-sore. Rachel senang sekali akhirnya bertemu lagi dengan tiga husky kesayangan. Hansen, Jansen dan Donjon langsung menyerbu Rachel di lobi sekolah. Rachel sampai jatuh berguling-guling. Tomi menggelengkan kepala melihat itu.

“Aku kangen banget sama kalian, Jansen, Hansen, Donjon!” Rachel menciumi kepala dan mengusap perut mereka. Di dalam mobil, Rachel sibuk bermain dengan mereka. Tomi duduk di depan, biar tidak kena bulu husky. Bisa bersin-bersin dia.

“Om Johan nginep?” tanya Rachel.

“Satu dua malam mungkin,” kata Om Johan. Om Johan adalah om keren yang setiap orang dambakan untuk punya. “Oh ya, setelah  mengantar kalian pulang, Om mau langsung ke pabrik ketemu Mama kalian ya.”

“Oke, Om.”

Rachel melanjutkan bermain dengan husky. Jansen dan Hansen yang bulunya ada hitamnya, dan Donjon  yang agak kecokelatan. Mereka anjing-anjing yang ganteng, kalau kata Rachel. Mereka menggonggong senang. Gonggongan mereka membuat Rachel teringat peristiwa semingguan lalu. Rachel bertanya dengan membisik ke telinga Donjon, yang dia anggap sebagai si alfa. “Kamu datang ya waktu itu?”

Tomi mendengar itu, dia geleng-geleng dan mencolek kepala kakaknya. “Ngigau lu ngigau.”

Om Johan penasaran, Tomi lalu bercerita. “Oh, biasa. Kangen memang sering menghadirkan sosok yang dikangeni jadi lebih dekat. Kangen adalah salah satu pencipta ilusi.”

“Aduh, Om. Nggak gitu juga,” kata Rachel.

Tomi terkekeh. “Om, Rachel lagi ditunggu pacarnya di rumah. Ayo buruan, Om.”

“Oh bilang dong dari tadi.” Om Johan mempercepat laju mobil.

Rachel mengerjai Tomi dengan menyuruh Jansen mengendus tengkuknya. Tomi gelagapan. Lalu bersin-bersin.

Sampai rumah, Panji sedang menunggu di tangga teras.

“Nah itu Om orangnya.” Tomi menunjuk.

“Oh boleh juga,” kata Om Johan.

“Apaan, sih!” Rachel mencubit Tomi.

Mereka turun dari mobil, Panji membantu Om Johan menurunkan koper dan membawanya masuk rumah. Rachel dan ketiga anjingnya langsung bermain kejar-kejaran di pekarangan. Om Johan langsung cabut lagi untuk menyusul Bu Rombe ke pabrik. “Mas Panji tolong temani kami, ya. Takutnya Om Johan dan mama agak lama di pabrik,” kata Rachel, selesai main lempar tangkap dengan Hansen, Jansen, dan Donjon.

“Siap. Tadi memang disuruh Ibu untuk temani kalian.”

“Coba sentuh, Mas, husky-ku. Ini Hansen, ini Jansen dan yang ini Donjon.”

Panji kaget dan mundur ketika Donjon menyalak.

“Nggak apa-apa Mas, dia nggak galak kok. Itu karena dia lagi senang.”

Panji ragu-ragu mau menyentuhnya.

“Katanya mau pasang badan?” goda Rachel. Panji langsung mengusap kepala Donjon, anjing itu menyalak lagi, membuat Panji mundur kaget. Akhirnya Panji terbiasa mengusap kepala husky. Ketiga-tiganya langsung akrab dengan Panji.

Sore menjelang magrib, Bu Ningsih datang membawakan makanan lalu menyapu dan mengepel. Bu Ningsih berpesan kepada Panji untuk menjaga mereka sampai Bu Rombe dan Om Johan kembali.

Sesuatu yang cukup meresahkan terjadi. Sekitar jam 7 malam, tiga anjing husky itu berlari kencang keluar kamar. Panji dan Rachel mengejar mereka sementara Tomi mengawasi saja dari balkon.

Rachel berhenti di tempat seminggu lalu dia merasa mendengar gonggongan. Panji di sebelahnya, mencari Hansen, Jansen, dan Donjon. Ruangan memang sudah gelap, tadi sengaja tidak dinyalakan karena kegiatan ada di lantai dua. Gonggongan mereka terdengar, tapi keberadaan mereka tidak. Rachel tiba-tiba menggigil. Dia teringat seminggu lalu. Perlahan dan terdorong oleh keinginan abstrak, dia menoleh ke potret tunggal Mbah Putri. Gonggongan Hansen, Jansen dan Donjon terdengar lagi. Panji bergerak menuju arah suara.

Lampu menyala. Akhirnya keberadaan tiga husky terlihat. Mereka berkumpul di sudut ruangan dekat ruang makan tempat potret tunggal Mbah Putri berada. Mereka menyalak-nyalak di situ sambil hampir berdiri. Rachel memanggil, mereka pun kembali ke pelukan Rachel.

Rachel dan Panji saling bertukar pandangan, lalu sama-sama melihat ke potret  Mbah Putri. Saling melempar tanya tanpa perlu bersuara, ada apa di situ?

“Tadi yang menyalakan lampu siapa, ya?” tanya Rachel.

“Aku lah, oon.” Tomi sudah di lantai bawah, tempat kumpulan sakelar. Samar-samar, Rachel melihat, sebelum Tomi menyalakan salah satu sakelar, hingga ruangan di belakang Tomi terang benderang, ada bayangan putih menjulang. Donjon sempat menyalak ke arah sana juga.

**

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

  • www.storial.co
  • Facebook: Storial
  • Instagram: storialco
  • Twitter: StorialCo
  • Youtube: Storial co
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Di Seberang Kedai Es Krim

07 Apr 2026, 13:07 WIBFiction
[PUISI] Asal Bapak Senang

[PUISI] Asal Bapak Senang

06 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rindu Rumah

[PUISI] Rindu Rumah

05 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Setipis Alasan

[PUISI] Setipis Alasan

04 Apr 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Semanis Madu

[PUISI] Semanis Madu

03 Apr 2026, 22:08 WIBFiction
[PUISI] Cerita Akhir Maret

[PUISI] Cerita Akhir Maret

03 Apr 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Jedalah Sejenak

[PUISI] Jedalah Sejenak

03 Apr 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Rumah Ternyaman

[PUISI] Rumah Ternyaman

03 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Sebongkah Es

[PUISI] Sebongkah Es

03 Apr 2026, 05:04 WIBFiction