Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Salahkah Aku Menyalahkan Waktu yang Datang Terlambat?

tumblr.com
tumblr.com

Rindu. Kejam adalah yang aku pikirkan tentang itu. Dia adalah yang membuat jiwaku berharap lebih. Aku?

Saat semua kepergian berakhir dengan rindu dan perpisahan dengan air mata, bolehkan aku menyalahkan waktu yang datang terlambat? Harapanku adalah dapat mengenalmu lebih cepat sebelum kau mengenal dia. Jika memang seperti itu, apakah semuanya dapat berjalan dengan apa yang aku pikirkan? Kemungkinan adalah semua misteri yang aku tidak mau dengarkan bagian buruknya.

Kebiasaan adalah rutinitas yang aku rindukan tentang mu. Pagi ku sepi dan malam ku inginkan suaramu. Tidurku rindu salam mu dan bangunku harapkan sapamu. Kesepian ini ber angan kau pun begitu, tapi logika ini pupuskan harapanku. Haruskah ku mulai membenci logika ini? Tapi jika logikaku pun tidak mendukungku, aku masih punya yang lebih besar. Semesta.

Pikiran ku jadi lebih jinak saat jiwanya sakit. Jadi aku mulai menyukai pikiran tapi kenapa logika ku terlalu banyak bicara? Ku bicara pada pikiran tentang semesta yang aku yakin selalu besertaku, tapi logika ku berteriak jikalau Semesta mempertemukan kami lebih awal, mungkin yang menemani hari harinya adalah tentang aku bukan siapa. Tapi semua itu hanya kemungkinan kan?

Keadaan. Apa yang aku senyumkan untuk sebuah pesan dari mu yang bukan lucu dan juga bukan puisi? Yah.. jantungku merindukan detak gembira itu dan syarafku menginginkan getaran suaramu lagi. Keadaan ini membuat hariku begitu panjang untuk kujalani. Sungguh.. aku hanya rindu. Segalanya jadi sepi. Aku tertawa di sebuah lelucon tapi angin pun tau aku tidak sedang baik baik saja. Lalu diam jadi obrolanku. Kapan aku pulih dari ketidaknyamanan ini?

Benci ini bukan tentang kamu ataupun dia, juga bukan tentang seluruh atom di jagatraya ini. Malam ini ku minta pada temanku, Semesta. Ku katakan pada air untuk memulihkan aku dan dia yang emosi, pada udara agar mempertemukan kami dari segala jurusnya, pada tanah untuk menyatukan langkah aku dan dia di jalan yang searah, pada langit agar memberikan matahari dan bulan juga bintang untuk kami sapa bersama, dan juga pada Nya yang menciptakan kami ada untuk memberikan kesempatan lagi ...

Hari ini, saat kutulis ini sungguh kuingin tahu kabarmu. Aku diam dan kau pun begitu. Hanya harapan kecil yang kemungkinannya aku suka adalah, atom kita bertemu dan saling jatuh cinta. Mungkinkah? Tapi aku percaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Senja yang Menyisakan Tanya

31 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi melangkah bebas

[PUISI] Mimpi Tanpa Batas

31 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi laki-laki disabilitas di pinggir pantai

[PUISI] Berlari Tanpa Kaki

30 Jan 2026, 21:48 WIBFiction
ilustrasi pertarungan

[PUISI] Menyendiri

30 Jan 2026, 21:07 WIBFiction
Ilustrasi gambar orang duduk di kursi

[PUISI] Singgasana Sunyi

30 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi seseorang melihat keluar dari jendela

[PUISI] Melebur Sekat

30 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi kabut di hutan

[PUISI] Rumit Ke Pamit

29 Jan 2026, 20:27 WIBFiction
ilustrasi seorang perempuan berlarian di pinggir pantai

[PUISI] Terus Berlari

29 Jan 2026, 18:07 WIBFiction
ilustrasi pasangan yang sedang berjalan bersama

[PUISI] Seni Meraih Cinta

28 Jan 2026, 16:47 WIBFiction
ilustrasi burung hantu

[PUISI] Makhluk Malang

27 Jan 2026, 17:07 WIBFiction