10 Masakan Lauk Bumbu Dasar Merah untuk Menu Bulan Ramadan

Menu Ramadan sering kali menuntut masakan yang cepat disiapkan tetapi tetap kaya rasa, terutama saat waktu memasak terasa lebih singkat menjelang berbuka atau sebelum sahur. Salah satu kunci yang banyak diandalkan ialah bumbu dasar merah, yakni bumbu campuran cabai merah, bawang merah, bawang putih, dan tomat yang dihaluskan lalu ditumis hingga matang sampai harum serta berminyak. Bumbu merah juga bisa ditambah kemiri, terasi, jahe, merica, atau ketumbar sesuai karakter lauk yang ingin diolah sehingga rasa pedas dan gurihnya pas.
Dengan stok bumbu dasar merah yang sudah matang, berbagai lauk bisa hadir sebagai menu Ramadan yang variatif tanpa membuat masak terasa merepotkan. Berikut sepuluh olahan lauk berbasis bumbu dasar merah yang bisa jadi referensi.
1. Sambal goreng menghadirkan rasa manis pedas yang lebih nendang

Sambal goreng seperti krecek, kentang, atau ati ampela mengandalkan bumbu dasar merah yang dimasak hingga benar-benar tanak agar rasa pedasnya tidak mentah dan warna kuahnya mengilap. Penambahan santan atau air kaldu sedikit demi sedikit membantu bumbu menyatu dengan bahan utama tanpa membuatnya terlalu cair. Kunci nikmatnya ada pada keseimbangan rasa manis dari gula merah dan asin dari garam atau ebi sehingga tidak terasa hanya pedas semata.
Untuk menu Ramadan, sambal goreng cocok disiapkan dalam jumlah agak banyak karena rasanya justru lebih meresap setelah dipanaskan kembali.
2. Asam padeh memberi sensasi segar tanpa santan

Asam padeh berbahan ikan patin, tongkol, atau ayam memanfaatkan bumbu dasar merah yang diberi tambahan asam kandis atau air perasan jeruk nipis. Kuahnya cenderung ringan karena tidak memakai santan, sehingga rasa pedas dan asam terasa lebih bersih di lidah. Saat dimasak, ikan sebaiknya tidak terlalu sering diaduk agar dagingnya tidak hancur dan kuah tetap jernih kemerahan. Lauk ini pas untuk berbuka karena kuahnya segar, apalagi jika disajikan hangat bersama nasi putih pulen.
3. Oseng mercon menonjolkan pedas yang tajam dan pekat

Oseng mercon identik dengan potongan daging, iga, atau jeroan yang dimasak bersama bumbu dasar merah dan cabai tambahan dalam jumlah lebih banyak. Bumbu ditumis hingga minyaknya keluar agar rasa pedasnya lebih matang dan tidak pahit. Tekstur daging yang empuk membuat bumbu lebih mudah meresap, terutama jika dimasak dengan api kecil setelah ditumis. Sajian ini cocok bagi pencinta pedas, tetapi tetap perlu takaran cabai yang masuk akal supaya tidak mengganggu lambung saat puasa.
4. Ayam pelalah pas buat kamu yang kangen nasi campur Bali

Ayam pelalah menggunakan ayam yang direbus atau dikukus hingga matang lalu disuwir, kemudian dimasak kembali dengan bumbu dasar merah. Tambahan daun jeruk dan sedikit air jeruk limau membuat aromanya lebih segar. Bumbu yang meresap pada suwiran ayam menciptakan rasa pedas gurih yang ringan sehingga cocok dijadikan lauk pendamping nasi hangat.
5. Balado menyerap bumbu dengan cara berbeda

Balado punya ragam varian mulai telur, terong, kentang, atau bahkan ikan goreng yang sudah dimasak lebih dulu sebelum dilumuri bumbu dasar merah. Bumbu biasanya dimasak agak kering supaya menempel sempurna pada permukaan bahan. Perbedaan bahan utama memengaruhi hasil akhir, misalnya telur memberi rasa lebih padat sedangkan terong menyerap bumbu merah hingga ke bagian dalam. Variasi ini membuat satu jenis bumbu bisa menghadirkan pengalaman rasa yang berbeda.
6. Rendang menyulap bumbu merah bersama santan hingga pekat

Rendang memanfaatkan bumbu dasar merah yang diperkaya rempah seperti lengkuas dan serai, lalu dimasak lama bersama santan sampai mengering. Proses memasak perlahan membuat warna berubah lebih gelap dan rasa semakin kuat. Daging sapi, ayam, atau bahkan jengkol bisa kamu gunakan, asalkan dimasak hingga empuk dan bumbu benar-benar melekat. Untuk menu Ramadan, rendang tahan disimpan beberapa hari sehingga praktis sebagai stok lauk untuk beberapa hari.
7. Rica-rica menghadirkan pedas dengan aroma rempah segar

Rica-rica ayam atau bebek cocok bila memakai bumbu dasar merah yang ditambah cabai rawit serta daun kemangi. Rasa pedasnya terasa lebih segar karena kombinasi cabai dan aroma daun kemangi. Proses memasaknya tidak terlalu lama agar daging tetap juicy dan tidak kering. Sajian ini cocok bagi yang ingin lauk pedas tanpa kuah santan yang berat bisa pula jadi stok sahur atau berbuka karena tetap enak setelah dipanaskan ulang.
8. Kari memadukan bumbu merah dengan kuah rempah

Kari ayam atau ikan bisa dibuat dari bumbu dasar merah yang ditambah bubuk kari dan santan. Kuahnya lebih kental dan berempah, berbeda dari asam padeh yang cenderung ringan. Memasak dengan api sedang membantu santan tidak pecah dan warna tetap menarik. Lauk ini pas untuk berbuka karena kuahnya memberi rasa hangat dan mengenyangkan.
9. Nasi goreng kampung cocok untuk sahur yang sat set

Nasi goreng kampung dapat memanfaatkan satu sendok bumbu dasar merah sebagai pengganti cabai dan bawang segar. Bumbu ditumis bersama nasi dingin sisa sahur agar butiran terpisah dan tidak lembek. Tambahan teri, ayam suwir, atau telur membuat rasanya lebih kaya tanpa perlu banyak bumbu tambahan. Cara ini praktis saat sahur karena waktu memasaknya singkat.
10. Sambal cumi menggabungkan gurih dan pedas

Sambal cumi menggunakan cumi asin yang direndam lebih dulu agar tidak terlalu asin, lalu dimasak bersama bumbu dasar merah hingga mengering. Minyak yang keluar dari bumbu membuat tampilannya mengilap dan tahan lebih lama. Rasa gurih cumi berpadu dengan pedas manis bumbu sehingga cocok sebagai pelengkap nasi hangat. Karena cukup kuat rasanya, porsi kecil saja sudah terasa mantap.
Menu Ramadan berbasis bumbu dasar merah memang memudahkan meal prep lauk di rumah, tetapi tetap perlu disajikan seimbang dengan sayur berkuah bening, lalapan segar, dan buah agar tidak terasa terlalu berat. Hindari mengonsumsi lauk pedas dan bersantan setiap hari supaya perut tetap nyaman saat berpuasa, ya. So, sudah siap mengatur variasi menu Ramadan dengan bumbu dasar merah?

















