Bahan dasar kedua camilan tersebut juga tidak jauh berbeda karena sama-sama dapat menggunakan tepung terigu, telur, gula, dan susu. Resep poffertjes tradisional biasanya menggunakan ragi yang membuat teksturnya lebih mengembang dan kenyal. Kue cubit memiliki tekstur yang lebih beragam karena dapat dimasak hingga matang atau sengaja dibiarkan setengah matang agar bagian tengahnya tetap lembut.
Benarkah Kue Cubit Terinspirasi dari Poffertjes Belanda?

- Kue cubit sering dikaitkan dengan poffertjes Belanda karena sama-sama memakai cetakan bercekungan kecil serta adonan berbahan tepung, telur, gula, dan susu.
- Meski mirip, kue cubit berkembang dengan tekstur matang atau setengah matang serta topping beragam, berbeda dari poffertjes yang umumnya disajikan dengan mentega dan gula bubuk.
- Nama kue cubit dikaitkan dengan cara penjual menjepitnya dari cetakan; resep, penyajian, dan kebiasaan berjualannya membentuk identitas khas Indonesia.
Kue cubit sudah menjadi jajanan yang begitu akrab di Indonesia, terutama bagi yang pernah membelinya di depan sekolah, pasar, atau pedagang kaki lima. Bentuknya sederhana, tetapi keberadaannya cukup menarik jika dilihat dari perjalanan kuliner Indonesia yang banyak bersinggungan dengan makanan dari masa kolonial.
Salah satu makanan yang kemudian sering disebut-sebut memiliki hubungan dengan kue cubit ialah poffertjes dari Belanda. Hubungan keduanya memang menarik, karena kue cubit tidak muncul dalam bentuk yang sepenuhnya sama dengan makanan Belanda tersebut.
Jadi, benarkah kue cubit terinspirasi dari poffertjes Belanda? Yuk, cari tahu jawabannya.
1. Kemiripannya terlihat dari cetakan dan bahan adonan
ilustrasi cetakan poffertjes (commons.wikimedia.org/Bin im Garten) Poffertjes dibuat menggunakan cetakan dengan banyak cekungan kecil yang memungkinkan beberapa kue dimasak sekaligus. Adonan dituangkan ke dalam cekungan tersebut hingga membentuk kue berukuran kecil dan bulat. Cara memasak seperti ini memiliki kemiripan yang cukup jelas dengan kue cubit yang juga menggunakan cetakan berlubang.
Kemiripan ini menjadi salah satu alasan kue cubit sering dikaitkan dengan poffertjes. Namun, hubungan tersebut tidak berarti resep kue cubit sama persis dengan resep poffertjes dari Belanda. Kue cubit sudah mengalami perkembangan sendiri dan dikenal sebagai jajanan dengan karakter yang berbeda di Indonesia.
2. Cara menyajikannya berkembang mengikuti selera Indonesia
ilustrasi poffertjes (commons.wikimedia.org/Bin im Garten) Poffertjes umumnya disajikan hangat dengan mentega dan taburan gula bubuk. Kombinasi tersebut membuat rasa manis dan gurih menjadi pelengkap utama tanpa membutuhkan banyak tambahan lain. Sajian sederhana seperti ini masih menjadi cara umum menikmati poffertjes di Belanda.
Kue cubit justru punya pilihan topping yang jauh lebih beragam. Meses cokelat, keju, susu kental manis, kacang, dan cokelat sering digunakan sebagai tambahan, sementara penjual masa kini juga menawarkan rasa seperti pandan, taro, red velvet, dan cokelat. Perkembangan tersebut membuat kue cubit mudah berubah mengikuti tren jajanan tanpa kehilangan bentuk dasarnya.
Perbedaan penyajian ini menunjukkan bahwa kue cubit tidak sekadar mempertahankan bentuk makanan yang menjadi inspirasinya. Jajanan tersebut berkembang mengikuti kebiasaan makan dan selera konsumen di Indonesia. Karena itu, kue cubit masa kini bisa memiliki tampilan dan rasa yang jauh lebih beragam dibandingkan poffertjes yang biasanya disajikan secara sederhana.
3. Nama kue cubit lahir dari kebiasaan penjual mengambilnya

ilustrasi kue cubit (commons.wikimedia.org/Serenity) Nama kue cubit memiliki cerita yang berbeda dari nama poffertjes. Salah satu cerita yang paling banyak dikenal menyebutkan bahwa kue ini dinamai berdasarkan cara penjual mengambilnya dari cetakan menggunakan penjepit kecil. Kue yang sudah matang kemudian dijepit dan diangkat, sehingga gerakannya terlihat seperti sedang mencubit.
Nama tersebut membuat jajanan ini terasa sangat dekat dengan kebiasaan berjualan makanan di Indonesia. Kue cubit juga lama dikenal sebagai jajanan yang dijual di gerobak atau kedai sederhana, terutama di Jakarta dan sekitarnya. Pembeli biasanya dapat melihat langsung proses adonan dituangkan, dimasak, diberi topping, lalu diangkat dari cetakan.
Kue cubit kemudian mengalami beberapa kali perubahan popularitas. Jajanan ini kembali banyak ditemukan dengan berbagai topping dan rasa baru, termasuk versi setengah matang yang bagian tengahnya masih lembut. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kue cubit bukan makanan yang berhenti pada satu resep lama, tetapi terus menyesuaikan diri dengan kebiasaan jajan masyarakat.
Kue cubit memang mirip dengan poffertjes. Namun, perkembangan resep, topping, cara berjualan, dan nama yang digunakan membuat kue cubit memiliki identitas tersendiri di Indonesia. Jadi, kalau ditanya apakah kue cubit terinspirasi dari poffertjes, jawabannya bisa dikatakan iya, tetapi kue cubit sudah berkembang menjadi jajanan dengan karakter khas Indonesia.




















