ilustrasi sushi (commons.wikimedia.org/Banej)
Salah satu alasan utama munculnya anggapan bahwa orang Jepang makan sushi saat bokek adalah karena makanan ini sangat mudah ditemukan. Sushi dijual di supermarket, minimarket tertentu, pusat perbelanjaan, hingga restoran kaiten-zushi yang terkenal dengan sistem ban berjalan.
Di restoran seperti ini, pelanggan bisa mengambil piring sushi sesuai selera dengan harga yang relatif terjangkau. Banyak menu yang menggunakan bahan sederhana sehingga cocok untuk makan santai tanpa mengeluarkan biaya besar. Kehadiran berbagai pilihan tersebut membuat sushi tidak selalu ditempatkan sebagai makanan spesial. Bagi sebagian warga Jepang, membeli sushi bisa sama biasa dengan membeli makan siang lainnya.
Meski begitu, posisi sushi dalam kehidupan sehari-hari tetap berbeda dengan citranya di luar Jepang. Banyak orang asing mengenal sushi melalui restoran premium atau konten kuliner yang menampilkan bahan-bahan mahal. Akibatnya, muncul kesan bahwa semua sushi pasti mewah dan mahal. Padahal, masyarakat Jepang terbiasa melihat sushi dalam berbagai bentuk, mulai dari yang sederhana hingga yang sangat eksklusif. Hal inilah yang membuat sushi dapat dinikmati oleh berbagai kalangan dengan anggaran yang berbeda-beda. Jadi, sushi di Jepang lebih tepat disebut makanan yang memiliki banyak kelas harga daripada makanan mewah semata.
Jadi, anggapan bahwa orang Jepang makan sushi saat sedang bokek tidak sepenuhnya salah. Namun, sushi yang dimaksud biasanya bukan sushi premium dengan otoro atau uni yang harganya mahal. Banyak warga Jepang memilih sushi dari supermarket, restoran terjangkau, atau varian dengan bahan sederhana yang lebih ramah di kantong. Kehadiran berbagai pilihan harga membuat sushi dapat dinikmati oleh banyak kalangan. Inilah yang membuat makanan tersebut tidak selalu dipandang sebagai hidangan mewah di negara asalnya.