Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Natto Jepang Teksturnya Lengket dan Berlendir?

4 min read
Kenapa Natto Jepang Teksturnya Lengket dan Berlendir?
ilustrasi natto (pixabay.com/ohmorimutsuhiro)
  • Natto dibuat dari kedelai rebus yang difermentasi dengan bakteri Bacillus subtilis var. natto dalam suhu dan kondisi yang tepat.
  • Selama fermentasi, bakteri menghasilkan poly-γ-glutamic acid atau γ-PGA, polimer pengikat air yang membentuk lendir alami pada permukaan kedelai.
  • Saat natto diaduk, γ-PGA dan elemen lendir membentuk benang halus; tekstur ini khas natto, tetapi kualitas, kemasan, penyimpanan, dan kedaluwarsa tetap perlu diperiksa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat kedelai yang mengeluarkan benang-benang panjang saat diaduk? Pemandangan ini mungkin terasa sedikit aneh, apalagi kalau kamu baru pertama kali melihat natto, makanan fermentasi khas Jepang yang terkenal dengan teksturnya yang lengket dan berlendir. Meski tampilannya kurang familier bagi sebagian orang, natto justru menjadi salah satu hidangan yang cukup populer di Jepang.

Tekstur lengket dan berlendir pada natto ternyata berhubungan dengan proses fermentasi kedelai, lho. Dalam proses ini, bakteri Bacillus subtilis var. natto menghasilkan senyawa bernama poly-γ-glutamic acid (γ-PGA) yang membuat natto mengeluarkan lendir dan benang-benang lengket saat diaduk.

Nah, sebenarnya bagaimana proses fermentasi tersebut bisa membuat kedelai memiliki tekstur yang begitu unik? Ini beberapa penjelasan soal kenapa natto teksturnya lengket.

  1. 1. Natto dibuat dari kedelai yang difermentasi

    ilustrasi kacang kedelai
    ilustrasi kacang kedelai (freepik.com/jcomp)

    Sekilas, natto mungkin tampak seperti semangkuk kedelai biasa dengan tekstur sedikit lembap dan lengket. Namun, makanan khas Jepang ini dihasilkan lewat proses fermentasi yang melibatkan bakteri tertentu yang dikenal sebagai Bacillus subtilis var. natto. Kedelai yang telah direbus selanjutnya difermentasi hingga menghasilkan aroma yang khas serta tekstur lengket yang menjadi ciri utama natto.

    Proses produksinya juga cukup menarik karena memerlukan suhu serta kondisi fermentasi yang tepat agar bakteri bisa bekerja secara optimal. Selama fase ini, bakteri mulai memecah berbagai elemen dalam kedelai dan menciptakan senyawa tertentu. Inilah perubahan yang membuat natto memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kedelai rebus biasa.

  2. 2. Bakteri fermentasi menghasilkan senyawa pembentuk lendir

    ilustrasi natto
    ilustrasi natto (pixabay.com/huiong)

    Pernah penasaran kenapa natto bisa mengeluarkan benang-benang panjang ketika diaduk menggunakan sumpit? Ternyata, fenomena ini terkait dengan aktivitas bakteri Bacillus subtilis var. natto selama fermentasi. Bakteri ini memproduksi senyawa yang disebut poly-γ-glutamic acid atau γ-PGA yang menjadi salah satu komponen utama dari lendir natto.

    Senyawa ini tergolong polimer yang tersusun dari banyak unit asam glutamat dan memiliki kemampuan untuk mengikat air. Karena sifat ini, γ-PGA membentuk lapisan berlendir yang membuat permukaan kedelai menjadi licin dan lengket. Jadi, benang-benang yang muncul saat natto diaduk bukan berasal dari bahan tambahan tertentu, melainkan merupakan hasil alami dari proses fermentasinya.

  3. 3. Benang lengket natto semakin terlihat saat diaduk

    ilustrasi natto yang diaduk
    ilustrasi natto yang diaduk (commons.wikimedia.org/Carstor)

    Kalau kamu pernah melihat orang Jepang menyiapkan natto, mungkin kamu telah memperhatikan bahwa mereka biasanya mengaduknya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Semakin sering diaduk, kedelai akan menciptakan untaian putih yang tampak seperti benang-benang halus yang saling menempel. Penampilan ini memang tergolong unik dan bisa jadi sedikit mengejutkan bagi orang yang belum terbiasa menyantapnya.

    Nah, untaian tersebut terbentuk berkat senyawa γ-PGA dan elemen lendir lainnya yang lengket, sehingga dapat membentuk benang ketika kedelai digerakkan atau ditarik. Itulah mengapa natto sering kali terlihat semakin berserat setelah mengalami beberapa kali pengadukan. Untuk orang Jepang yang sudah akrab dengan makanan ini, tekstur semacam ini justru menjadi salah satu identitas khas natto.

  4. 4. Tekstur berlendir merupakan ciri khas natto hasil fermentasi

    ilustrasi natto dan nasi putih
    ilustrasi natto dan nasi putih (pixabay.com/魔理沙のズボラ飯)

    Bagi yang baru pertama kali mencoba natto, tampilannya mungkin menimbulkan pertanyaan apakah makanan ini masih aman untuk dimakan atau justru sudah basi? Sangat wajar, karena konsistensi berlendir dan aroma fermentasinya jauh berbeda dibandingkan dengan olahan kedelai yang biasa ditemukan di Indonesia. Namun, lendir dan benang lengket tersebut merupakan karakteristik alami dari natto yang dihasilkan melalui proses fermentasi.

    Meskipun demikian, tidak berarti semua natto yang berlendir selalu aman untuk dikonsumsi dalam kondisi apa pun. Kualitas tetap harus menjadi perhatian, termasuk tanggal kedaluwarsa, kondisi kemasan, cara penyimpanan, serta adanya tanda kerusakan yang tidak normal. Jadi, selama diproduksi dan disimpan dengan benar, tekstur lengket tersebut memang merupakan bagian dari keunikan natto, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

    Tekstur lengket dan berlendir pada natto ternyata merupakan hasil alami dari proses fermentasi kedelai dengan bantuan bakteri Bacillus subtilis var. natto. Senyawa γ-PGA yang dihasilkan selama proses tersebut membuat natto memiliki lendir dan untaian benang yang menjadi ciri khasnya. Jadi, kalau suatu saat kamu melihat natto mengeluarkan benang saat diaduk, sekarang kamu sudah tahu rahasia di balik keunikannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More
Kenapa Natto Jepang Teksturnya Lengket dan Berlendir?