Mengenal Hojicha, Teh Asal Jepang yang Punya Rasa Unik

- Hojicha adalah teh hijau panggang dari Kyoto yang dikembangkan sejak 1920-an, dibuat dari daun panen terlambat yang dikukus lalu dipanggang pada suhu 200 derajat Celsius.
- Pemanggangan memberi warna cokelat kemerahan, aroma hangat seperti kacang atau karamel, serta rasa ringan, sedikit manis mirip kakao dan smoky karena kadar katekin berkurang.
- Hojicha tersedia sebagai daun kering atau bubuk, berkafein rendah 7–10 mg per cangkir; konsumsi normal dibatasi 2–4 cangkir daun atau 1–2 cangkir bubuk per hari.
Membahas soal teh Jepang, orang-orang akan langsung teringat matcha atau ocha. Keduanya memang cukup populer di banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, Jepang sendiri sebenarnya memiliki jenis teh yang sangat beragam dan hojicha adalah salah satunya.
Hojicha memang sedang viral di mana-mana. Minuman ini mulai banyak ditemukan di kafe-kafe. Bukan hanya disajikan sebagai teh, tetapi juga dikreasikan menjadi hojicha latte, hojicha milk tea, bahkan aneka dessert. Jadi sebenarnya, apa sih hojicha itu? Kini saatnya kamu mengenal hojicha lebih jauh, nih!
1. Hojicha sudah dikembangkan sejak lama di Kyoto

ilustrasi daun teh hojicha (unsplash.com/Petr Sidorov) Hojicha memang baru viral beberapa bulan belakangan. Namun, jenis teh ini sebenarnya sudah dikembangkan di Kyoto sejak 1920-an. Hojicha (焙じ茶) dalam bahasa Jepang berarti teh panggang. Secara teknis, hojicha masuk dalam kategori teh hijau. Namun, berbeda dengan jenis teh hijau biasa, daun teh yang akan dibuat untuk hojicha umumnya akan dipanen lebih lambat.
Selain waktu panen, proses pengolahan hojicha juga berbeda. Jadi, daun teh yang sudah dipanen akan mengalami proses pengukusan dan dilanjutkan dengan pemanggangan di atas arang bersuhu 200 derajat Celsius. Suhu yang tinggi inilah yang kemudian mengubah warna daun teh menjadi cokelat kemerahan.
2. Proses pemanggangan membuat rasanya jadi lebih ringan

ilustrasi secangkir hojicha latte hangat (magnific.com/pikisuperstar) Proses pemanggangan pada hojicha gak hanya membuat warnanya berubah. Lebih dari itu, proses ini juga menghasilkan teh dengan profil rasa yang unik. Mengingat hojicha dipanggang pada suhu tinggi, banyak orang beranggapan bahwa rasa teh ini pahit.
Nyatanya, proses pemanggangan bukan hanya menghasilkan aroma hangat seperti kacang atau karamel, tetapi juga mengurangi kadar katekin pada teh. Katekin sendiri merupakan senyawa antioksidan alami yang juga memberikan rasa pahit dan sepat pada teh ketika diseduh. Berkurangnya kadar katekin membuat hojicha memiliki rasa yang lebih ringan, sedikit manis mirip kakao, dengan sentuhan smoky.
3. Hojicha tersedia dalam bentuk serpihan daun teh kering maupun bubuk

ilustrasi hojicha yang baru diseduh (unsplash.com/Ryunosuke Kikuno) Berbeda dengan matcha yang harus diseduh dengan air panas dan dikocok hingga berbusa. Hojicha memiliki bentuk penyajian yang lebih beragam. Ini karena selain tersedia dalam bentuk daun teh kering, hojicha juga kerap dijual dalam bentuk bubuk seperti matcha. Untuk hojicha yang masih berbentuk daun kering, cara penyajiannya sama seperti teh pada umumnya.
Daun teh diseduh dengan air panas, didiamkan selama 1-2 menit sebelum disaring untuk diambil sarinya. Sedangkan untuk hojicha powder, cara penyajiannya mirip dengan matcha. Namun, berbeda dengan matcha yang harus dikocok menggunakan kocokan bambu (chasen), hojicha hanya perlu diaduk hingga larut dengan air. Hojicha powder biasanya lebih umum digunakan untuk membuat aneka kreasi minuman dan makanan manis.
4. Hojicha aman diminum setiap hari dengan jumlah konsumsi normal

ilustrasi seorang perempuan menikmati secangkir hojicha (unsplash.com/engin akyurt) Buat kamu yang gak suka rasa matcha atau kopi, tapi masih butuh asupan kafein, hojicha bisa jadi pilihan terbaik. Sama seperti kedua minuman tersebut, hojicha mengandung kafein dengan kadar yang lebih rendah. Untuk setiap cangkir yang terbuat dari hojicha seberat 8 ons, kandungan rata-rata kafeinnya hanya 7-10 mg. Sama seperti jenis teh lain, hojicha merupakan minuman yang aman diminum setiap hari selama konsumsinya masih dalam batas normal.
Untuk hojicha berbentuk daun kering, batas aman mengonsumsinya adalah 2-4 cangkir per hari. Sedangkan hojicha bubuk dibatasi hanya 1-2 cangkir per hari. Sayangnya, mereka yang menderita anemia, defisiensi zat besi, vegetarian, dan perempuan yang menstruasi sebaiknya membatasi konsumsi hojicha. Bagaimanapun, sama seperti teh lain, hojicha juga mengandung senyawa tanin yang jika dikonsumsi berlebihan dapat mengurangi penyerapan zat besi. Sedangkan bagi ibu hamil dan menyusui, pembatasan konsumsi dilakukan untuk mengurangi efek samping kafein.
Proses pemanggangan pada hojicha memberikan profil rasa dan aroma yang unik. Makanya gak heran kalau minum ini mulai disukai banyak orang. Terutama jika kamu adalah penggemar aneka jenis teh, kamu wajib mencicipi hojicha.












![[QUIZ] Dari Dessert Kekinian Favoritmu, Kami Tahu Caramu Hadapi Quarter Life Crisis](https://image.idntimes.com/post/20250713/pexels-mart-production-7699511_6a7171e6-2ce4-4cac-ae1d-5d53a7a3916d.jpg)



![[QUIZ] Pilih Kopi Favoritmu, Menu Pendamping Ini Paling Cocok untukmu!](https://image.idntimes.com/post/20250710/upload_d93450507f45f8998e805b9931183a3a_27490e62-3712-47d9-a888-7b0743cd4d65.jpg)


![[QUIZ] Cari Tahu Menu Rebusan yang Cocok untukmu!](https://image.idntimes.com/post/20251125/upload_fb147301aceca628e2b1c09b8cee3de8_28a208fb-8a31-441c-99ac-158141824eed.jpg)