Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bekal Makanan Perang di Sumatra, Masih Eksis Sampai Sekarang!
ilustrasi nasi dan lauk (pexels.com/rakhmat suwandi)

Singkong rebus maupun olahan singkong lainnya, pada zaman penjajahan adalah makanan populer pada masanya. Bukan sekadar untuk memenuhi santapan harian saja, singkong rebus beserta olahannya menjadi pilihan para pahlawan bangsa sebagai bekal untuk perang melawan penjajah, lho.

Singkong bisa dibilang sebagai bekal paling sering dipilih karena pada zaman tersebut tidak bisa menjangkau beras, dan singkong menjadi umbi-umbian yang tumbuh subur sebagai makanan pokok.

Selain singkong, para pahlawan memiliki bekal khas berdasarkan wilayahnya. Seperti deretan makanan berikut ini yang menjadi bekal perang para pahlawan di Sumatra. Masih eksis sampai sekarang, lho. Sudah tahu?

1. Keumamah

ilustrasi olahan keumamah (commons.wikimedia.org/Andrianika)

Sie reuboh atau olahan daging yang dimasak dengan rempah-rempah dan cuka bukan satu-satunya makanan yang dijadikan bekal perang oleh pahlawan Aceh. Sebagai daerah paling barat Indonesia yang sebagian wilayahnya perairan, ikan menjadi makanan yang dijadikan pilihan bekal pahlawan saat perang.

Bukan dimasak sup atau dibalado, ikan laut hasil tangkapan mereka nantinya direbus, dikeringkan hingga keras layaknya kayu, baru diolah dengan rempah. Masyarakat setempat menyebutnya keumamah. Meski dikeringkan, tekstur ikannya masih ramah untuk dikunyah. Jenis ikan yang sering digunakan yaitu ikan tongkol dan ikan cakalang.

2. Makanan rebus atau kukus

ilustrasi makanan kukusan (pexels.com/Noval Gani)

Selain nasi oyek, makanan kukus atau rebus pernah menjadi bekal Jenderal Sudirman saat melakukan gerilya perang bersama rakyat Aceh melawan penjajah. Makanan bekal perang tersebut di Aceh memiliki nama sebutan yakni lam prang.

Lam prang sendiri biasanya terdiri dari pisang rebus, ubi rebus, dan sagu yang telah dikukus sebelumnya. Kaya kandungan karbohidrat, lam prang cukup mengganjal rasa lapar dan memberi rasa kenyang cukup lama selama perang berlangsung.

3. Nasi perang paderi

ilustrasi nasi gurih (unsplash.com/Mufid Majnun)

Meski hanya nasi putih yang ditaburi dengan bawang goreng kemudian dibungkus dengan daun, nikmatnya luar biasa saat disantap usai lelah perang melawan penjajah.

Aroma harum serta gurih khas bawang goreng menjadi pelengkap kenikmatan meski tidak ada daging maupun ikan. Masyarakat Minangkabau menyebutnya nasi perang paderi. Makanan tersebut adalah bekal para pahlawan Minangkabau saat perang melawan penjajah, lho.

4. Nasi jagung

ilustrasi nasi jagung (commons.wikimedia.org/Ichi Ocha)

Nasi jagung juga termasuk bagian dari bekal yang dipilih para pahlawan. Makanan berbahan dasar jagung ini bisa bilang makanan bekal umum yang jadi makan saat perang, gak cuma di Sumatra.

Nasi jagung sudah amatlah nikmat dengan rasa manis dan gurihnya sehingga bisa dimakan secara langsung meski tanpa lauk. Namun pahlawan Sumatra dahulu menambahkan lauk olahan ikan atau sayur yang dimasak ala kadarnya karena bekal akan dibawa atau dikonsumsi hingga berhari-hari. 

5. Nasi perang medan

ilustrasi nasi dan lauk (pexels.com/rakhmat suwandi)

Nasi perang Medan juga termasuk bekal pahlawan saat perang. Tidak sesederhana nasi perang paderi, nasi perang medan masih menambahkan lauk sederhana namun bisa dibilang sangatlah nikmat dan memuaskan lidah seperti ikan teri goreng dan sambal.

Supaya awet ketika dijadikan bekal untuk berperang, nasi perang Medan juga dibungkus dengan menggunakan daun, lho. Sampai sekarang nasi perang Medan masih bisa dijumpai meski nama sebutannya sedikit berbeda dari dulu.

Selain lima makanan tadi, ada lagi bekal perang yang dibawa pahlawan terutama berasal dari Aceh. Namanya adalah sie belu. Sie belu merupakan olahan daging lembu yang diawetkan dan dijemur di bawah terik matahari.

Awet hingga berbulan-bulan jadi alasan kenapa sie belu jadi makanan bekal perang. Ada lagi bekal makanan perang asal Sumatra yang kamu ketahui? Jangan malu-malu untuk sharing di kolom komentar, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article