7 Makanan Khas Isra Mikraj di Indonesia, Ada Kesukaanmu?

Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai momen spiritual melalui doa dan pengajian, tetapi juga diwarnai dengan berbagai tradisi budaya yang masih dijaga hingga saat ini.
Di sejumlah daerah, peringatan Isra Mikraj kerap disertai dengan penyajian makanan khas yang dibagikan kepada keluarga, tetangga, atau jamaah sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan. Tradisi kuliner ini menjadi salah satu cara masyarakat merayakan hari besar keagamaan secara hangat dan penuh makna.
Menariknya, setiap daerah memiliki jenis makanan Isra Mikraj yang berbeda, baik dari segi bahan, cita rasa, maupun makna filosofisnya. Berikut beberapa makanan Isra Mikraj di berbagai daerah di Indonesia yang menarik untuk diketahui.
1. Nasi bogana
Nasi bogana hampir selalu hadir dalam tradisi Rajaban yang digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon. Perayaan ini biasanya diawali dengan pengajian umum, kemudian dilanjutkan dengan pembagian nasi bogana kepada warga keraton, kaum masjid, abdi dalem, hingga masyarakat sekitar.
Hidangan ini dikenal luas di wilayah Cirebon dan Tegal. Sekilas, tampilannya mengingatkan pada nasi lengko atau nasi megono, karena disajikan bersama beragam lauk dan sayur pendamping.
Isinya bisa berupa orek tempe, ayam suwir, telur, serundeng, oseng kacang panjang, hingga sambal goreng. Beberapa versi juga menggunakan nasi gurih , agar cita rasanya semakin kaya. Karena popularitasnya, nasi bogana kini mudah ditemui dan tak harus menunggu momen perayaan besar untuk menikmatinya.
2. Kue apam

Kue apam menjadi hidangan khas dalam perayaan Khanduri Apam atau Toet Apam di Aceh, terutama saat bulan Rajab dan peringatan Isra Mikraj. Tradisi ini biasanya dilakukan secara gotong royong, baik di lingkungan masyarakat maupun dibuat sendiri di rumah.
Bentuk apam mirip serabi atau apem selong, dengan bahan utama tepung beras, santan, dan air kelapa. Rasanya manis-gurih karena menggunakan campuran gula pasir dan garam.
Garam juga berfungsi mencegah adonan lengket saat dimasak menggunakan cetakan tanah. Kue apam bisa disantap langsung atau dipadukan dengan kuah tuhe, yakni santan kental yang dimasak bersama nangka atau pisang dan gula pasir, sekilas mirip kolak, tetapi dengan tekstur yang lebih pekat.
3. Lemang
Di Aceh, khususnya wilayah Gayo Lues, lemang menjadi sajian penting dalam berbagai perayaan keagamaan, termasuk Isra Mikraj. Proses memasak lemang memiliki nilai tersendiri, karena tidak dilakukan setiap hari dan membutuhkan ketelatenan.
Lemang dibuat dari beras ketan dan santan yang dimasak di dalam bambu, lalu dibakar hingga matang. Variasinya cukup beragam, mulai dari ketan putih, ketan hitam, hingga campuran ubi. Setelah matang, lemang dipotong-potong dan biasanya disajikan bersama selai srikaya, menciptakan perpaduan rasa gurih dan manis yang khas.
4. Nasi ambeng

Sebagian masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur merayakan Isra Mikraj melalui tradisi makan bersama yang disebut ambengan. Nasi dan lauk diletakkan dalam wadah besar bernama ambeng, lalu dibawa ke musala atau masjid untuk disantap bersama setelah doa dipimpin kiai setempat.
Hidangan inilah yang dikenal sebagai nasi ambeng. Penyajiannya cenderung dalam porsi besar dengan aneka lauk pendamping, mirip nasi bogana.
Namun, tidak ada aturan baku soal lauk, sehingga setiap daerah atau keluarga bisa menyesuaikannya. Nasi ambeng juga dikenal di Malaysia dan Singapura, serta dimaknai sebagai simbol kerukunan dan kebahagiaan karena disantap bersama-sama dalam satu wadah.
5. Lempah kuning
Di Bangka Belitung, perayaan hari besar keagamaan identik dengan tradisi Nganggung, yakni membawa makanan dari rumah dalam wadah tertutup tudung saji tradisional yang disebut dulang. Semua hidangan kemudian dikumpulkan dan disantap bersama.
Dari beragam menu yang dibawa, lempah kuning menjadi sajian yang hampir selalu ada. Hidangan ini berupa olahan ikan atau ayam dengan bumbu rempah yang kuat. Warna kuningnya berasal dari kunyit, sementara rasa asam segarnya datang dari nanas dan asam jawa. Kombinasi ini menghasilkan cita rasa khas yang mencerminkan karakter kuliner Bangka Belitung.
6. Wajik pangan

Di Lombok, tepatnya di Dusun Jerneng Mekar, Desa Terong Tawah, wajik pangan dijuluki raja jaje atau raja kudapan. Julukan ini muncul karena proses pembuatannya yang memakan waktu lebih lama dibandingkan jajanan tradisional lainnya.
Wajik pangan menjadi salah satu bagian penting dari tradisi dulang pesajiq, yakni nampan kayu berisi aneka jajanan lokal yang dibawa setiap kepala keluarga ke masjid saat peringatan Isra Mikraj. Kudapan ini kemudian dihidangkan kepada tamu undangan sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan.
7. Nasi kuning
Nasi kuning juga kerap hadir dalam perayaan Isra Mikraj, terutama di Jawa Timur. Hidangan ini sering disajikan dalam bentuk tumpeng pada acara besar, termasuk peringatan Nyadran atau Rajaban.
Tradisi Nyadran biasanya diawali dengan doa bersama untuk para leluhur, lalu ditutup dengan makan bersama dari bekal yang dibawa masing-masing keluarga. Nasi kuning disajikan dengan lauk seperti ayam, sambal goreng, mi, dan telur. Beberapa daerah juga menambahkan perkedel dan serundeng untuk melengkapi cita rasa.


















