"Yellow caturra ini mencolok karena warnanya yang kuning. Kalau varietas bourbon warnanya tetap merah. Tapi, seringkali yang red-nya ini disebut sebagai red caturra," ujar Irene, sapaan akrab Ireneus, kepada IDN Times di Delawa Coffee, Kamis (15/10/2026).
Mengenal Kopi Arabika Yellow Caturra dan Juria Khas Manggarai

Manggarai, Nusa Tenggara Timur, membudidayakan arabika langka yellow caturra dan juria; yellow caturra berasal dari mutasi bourbon, sedangkan juria diyakini varietas tua sejak masa kolonial.
Yellow caturra berbuah kuning keemasan, berpohon pendek, dengan rasa clean, asam segar, buah dan madu; juria berpohon tinggi, berbadan penuh, bernuansa cokelat hitam, rempah, gula aren, dan kelapa sangrai.
Keterbatasan populasi, usia pohon, panen selektif, perubahan iklim, serta risiko penggantian varietas menjadi tantangan; harga green bean yellow caturra sekitar Rp180 ribu dan juria Rp300 ribu per kilogram.
Di balik popularitasnya sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia, wilayah Manggarai di Nusa Tenggara Timur menyimpan harta karun berupa dua varietas kopi arabika yang tergolong langka, yakni yellow caturra dan juria. Keduanya menawarkan keunikan pada tampilan fisik dan profil rasa yang sangat kaya.
Sebagai penikmat specialty coffee, yellow caturra dan juria ini wajib masuk bucket list ngopimu, lho. Yuk, kenalan lebih jauh dengan jenis kopi langka khas Indonesia Timur ini! Kali ini IDN Times melihat langsung kebun dan mendapatkan informasi terkait dua varietas tersebut di salah satu rumah produksi dan UMKM specialty coffee di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yakni Delawa Coffee, pada Kamis (15/10/2026). Berikut ulasannya untukmu!
1. Asal-usul yellow catura dan juria

Potret biji kopi yellow caturra khas Manggarai (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Nama yellow caturra dan juria memang tidak sepopuler kopi lainnya, seperti gayo, kintamani, atau bajawa. Namun, bukan berarti kopi ini tidak diminati. Justru banyak pencinta kopi yang penasaran dan ingin mencicipinya. Sebelum mengenal lebih jauh, alangkah baiknya untuk mengetahui asal-usul varietas ini.
Founder Delawa Coffee, Ireneus Gratia Sandur, kopi yellow caturra ini merupakan mutasi alami dari varietas bourbon yang pertama kali ditemukan di Brasilia pada abad ke-20.
Varietas ini kemudian masuk dan dikembangkan di dataran tinggi Manggarai melalui program introduksi tanaman.
"Karena memang tanaman ini cocok dikembangkan dan sesuai dengan iklim yang ada di Flores, khususnya di Manggarai, sehingga cukup gencar dibudidayakan di sini, juga di Waso ini," katanya.
Nama yellow caturra disematkan untuk kopi ini karena buah cerinya yang matang berwarna kuning terang atau keemasan. Kata caturra sendiri berasal dari dari Bahasa Guarani (Amerika Selatan) yang berarti kecil atau kerdil. Hal ini merujuk pada postur pohonnya yang cenderung kecil jika dibandingkan dengan varietas arabika lainnya, serta ukuran biji mentahnya yang cenderung kecil pipih. Uniknya, petani kopi di Manggarai juga kerap menyebutnya colombia.
Persebaran utama tanaman kopi yellow caturra ada di dataran tinggi Manggarai, terutama di wilayah Ruteng, Pembohang, Nati, dan Ranaka. Juga ada di wilayah Colol dan Mano di Manggarai Timur.
Sementara itu, kopi arabika juria merupakan varietas tua dan cukup legendaris itu di Manggarai. Masyarakat setempat meyakini bahwa juria dibawa dan ditanam di Flores sejak masa kolonial Belanda.
"Pohon (kopi) juria yang ada saat ini (di Manggarai) merupakan turunan langsung dari generasi pertama tanaman arabika yang bertahan hidup puluhan tahun dan beradaptasi sangat kuat dengan terroir (faktor lingkungan alami dan sentuhan manusia) kami di Manggarai," kata Irene.
Masyarakat Manggarai menamainya juria, karena pohonnya sudah tua dan ukurannya sangat besar. Alhasil, kata juria ini melekat sebagai identitas varietas heritage asli tanah Manggarai.
2. Ciri-ciri biji dan pohon

Irene menunjukkan pohon kopi yellow caturra (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Seperti yang sudah dijelaskan di atas, yellow caturra memiliki ciri khas berwarna kuning terang atau keemasan, sangat kontras dengan warna daunnya, dan ukuran pohonnya lebih pendek dari kopi arabika lainnya.
"Selain itu, tajuk daunnya juga lebih rapat dan jarak antara ruang ranting lebih pendek, sehingga memudahkan petani saat pemetikan," kata Irene.
Irene kemudian menujukkan pohon kopi yellow catura yang ada di kebun Delawa Coffee. Pohon tersebut memang kerdil, tetapi buahnya cukup banyak. Dari kejauhan pun sangat terlihat warna kuning keemasan dari bijinya.
Berbanding terbalik dengan yellow caturra, pohon kopi juria sangat tinggi dan besar, sekitar tiga hingga lima meter. Meskipun tinggi, petani tidak memangkasnya karena dianggap sebagai pohon "legendaris" dan batangnya kokoh. Daunnya cenderung lebar dan warnanya hijau gelap (pekat), serta ukuran bijinya juga lebih besar jika dibandingkan dengan biji kopi arabika lainnya.
3. Profil rasa

Potret biji kopi yellow catura khas Manggarai (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Berbicara tentang kopi, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas tentang profil rasa yang dihasilkan. Menurut Irene, rasa kopi yellow katura cenderung clean dan masam dengan sentuhan segar. Dari segi body, yellow caturra ini termasuk medium, serta ada aroma hint buah dan madu.
"Kalau kami sendiri menilainya dia itu kayak apel hijau begitu. Dominan sweetness-nya dibandingkan dengan varietas biasa dari arabika," kata Irene.
Sementara itu, juria memiliki acidity atau tingkat keasaman yang lebih kompleks, body-nya lebih berat dan full, serta terasa "tebal" di mulut.
"Aromanya sangat khas. (Ada sentuhan) dark chocolate, kemudian rempah-rempah, brown sugar, dan kelapa sangrai begitu. Dan after taste-nya sangat panjang. Long finish," kata Irene.
4. Ketersediaan di pasaran

Dua orang karyawan sedang memilah biji kopi di Delawa Coffee, Manggarai (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Menurut Irene, kopi yellow caturra dan juria cukup sulit ditemukan di pasaran alias langka. Hal ini dikarenakan populasinya tidak sebanyak varietas arabika pada umumnya.
"Walaupun di beberapa tempat seperti di tempat kami (Manggarai) populasinya cukup banyak, tetap menjadi langka ketika dibandingkan di daerah lain," tutur Irene.
Selain populasi, faktor lain yang menyebabkan pohon ini langka adalah umurnya yang sudah tua, produktivitas fisiknya terbatas, tidak lagi dibudayakan secara masif dalam perkebunan modern, dan pasokannya hanya bisa didapatkan dari petani-petani tertentu.
"Seperti di komunitas kami, dari 40 petani hanya enam orang saja yang punya juria. Itu pun beberapa pohon saja," imbuhnya.
Saking langkanya dan proses panennya yang rumit, tidak heran jika dua varietas ini sering dijual dengan harga tinggi. Green bean yellow caturra sekitar Rp180 ribu per kilogram dan juria sekitar Rp300 ribu per kilogram.
5. Tantangan yang dihadapi petani dan produsen lokal

Irene menunjukkan kopi yang dijemur di Delawa Coffee, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas) Ada berbagai tantangan yang dihadapi petani lokal dalam memproduksi kopi yellow caturra dan juria. Pertama, perubahan iklim, El Nino, dan kemarau panjang. Hal ini sangat berpengaruh terhadap masa berbunga dan pembentukan buah. Saat ini, masyarakat Manggarai mengatasinya dengan penggunaan pupuk organik yang dihasilkan dari limbah kulit kopi sendiri.
Selanjutnya, pemeliharaan pohon tua, khususnya juria, juga menjadi tantangan tersendiri. Pohon kopi juria membutuhkan teknik pemangkasan dan konservasi tanah yang tepat agar tidak rusak dan tetap bisa produktif.
Tantangan ketiga adalah selective picking. Dalam proses pemetikan kopi, terutama yellow caturra, perlu adanya ketelitian ekstra dari petani. Hal ini disebabkan warna matang sempurna pada kopi ini adalah kuning keemasan, bukan merah. Bahkan, kalau warnanya masih kuning biasa, belum keemasan, itu tandanya juga masih setengah matang.
"Meskipun sudah mencoba untuk teliti, tetap ada faktor-faktor yang membuat (biji kopi) setengah matang itu terpetik juga. Salah petik begitu. Tetapi, ya, pada akhirnya juga disortasi begitu," tutur Irene.
Tantangan yang keempat adalah risiko alih fungsi varietas. Banyak petani yang tergoda menggantikan varietas lokal dengan varietas baru yang dianggal lebih menguntungkan.
Kalau di Delawa Coffee, kami mencoba hadir mendampingi petani agar varietas lokal ini itu tetap memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan kelestariannya tetap terjaga," ujarnya.
Nah, sekarang kamu sudah tahu tentang kopi arabika yellow caturra dan juria khas Manggarai. Dua varietas tersebut lebih dari sekadar biji kopi yang dipanen, lalu diolah dan dihidangkan ke dalam cangkir. Ada cerita tentang perjuangan, gerakan keberlanjutan lingkungan, dan ketahanan ekonomi di kalangan petani lokal lintas generasi. Apakah kamu pernah mencicipi keduanya? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, ya!


![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kepribadianmu dari Caramu Beli Kopi](https://image.idntimes.com/post/20250503/ceyda-ciftci-wpq5lxsoisa-unsplash-ca1834d54993c733222d325499cbe090-88fa5681b56c785f208255fffc9d4c85.jpg)

















![[QUIZ] Ibarat Cookies, Kamu Cocok dengan Topping Ini](https://image.idntimes.com/post/20250511/pexels-1434506-10243944-5f33a6106b7b2abdfec00ff311918826-c2bad661e5cbc94892ff5fc7dba4366b.jpg)



