Potret biji kopi yellow caturra khas Manggarai (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
Nama yellow caturra dan juria memang tidak sepopuler kopi lainnya, seperti gayo, kintamani, atau bajawa. Namun, bukan berarti kopi ini tidak diminati. Justru banyak pencinta kopi yang penasaran dan ingin mencicipinya. Sebelum mengenal lebih jauh, alangkah baiknya untuk mengetahui asal-usul varietas ini.
Founder Delawa Coffee, Ireneus Gratia Sandur, kopi yellow caturra ini merupakan mutasi alami dari varietas bourbon yang pertama kali ditemukan di Brasilia pada abad ke-20.
"Yellow caturra ini mencolok karena warnanya yang kuning. Kalau varietas bourbon warnanya tetap merah. Tapi, seringkali yang red-nya ini disebut sebagai red caturra," ujar Irene, sapaan akrab Ireneus, kepada IDN Times di Delawa Coffee, Kamis (15/10/2026).
Varietas ini kemudian masuk dan dikembangkan di dataran tinggi Manggarai melalui program introduksi tanaman.
"Karena memang tanaman ini cocok dikembangkan dan sesuai dengan iklim yang ada di Flores, khususnya di Manggarai, sehingga cukup gencar dibudidayakan di sini, juga di Waso ini," katanya.
Nama yellow caturra disematkan untuk kopi ini karena buah cerinya yang matang berwarna kuning terang atau keemasan. Kata caturra sendiri berasal dari dari Bahasa Guarani (Amerika Selatan) yang berarti kecil atau kerdil. Hal ini merujuk pada postur pohonnya yang cenderung kecil jika dibandingkan dengan varietas arabika lainnya, serta ukuran biji mentahnya yang cenderung kecil pipih. Uniknya, petani kopi di Manggarai juga kerap menyebutnya colombia.
Persebaran utama tanaman kopi yellow caturra ada di dataran tinggi Manggarai, terutama di wilayah Ruteng, Pembohang, Nati, dan Ranaka. Juga ada di wilayah Colol dan Mano di Manggarai Timur.
Sementara itu, kopi arabika juria merupakan varietas tua dan cukup legendaris itu di Manggarai. Masyarakat setempat meyakini bahwa juria dibawa dan ditanam di Flores sejak masa kolonial Belanda.
"Pohon (kopi) juria yang ada saat ini (di Manggarai) merupakan turunan langsung dari generasi pertama tanaman arabika yang bertahan hidup puluhan tahun dan beradaptasi sangat kuat dengan terroir (faktor lingkungan alami dan sentuhan manusia) kami di Manggarai," kata Irene.
Masyarakat Manggarai menamainya juria, karena pohonnya sudah tua dan ukurannya sangat besar. Alhasil, kata juria ini melekat sebagai identitas varietas heritage asli tanah Manggarai.