Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Istirahat di rumah.
ilustrasi istirahat di rumah (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Dalam satu minggu tanpa olahraga, tubuh belum kehilangan kebugaran secara drastis, tetapi mulai beradaptasi.

  • Istirahat singkat bisa memberi manfaat pemulihan, terutama jika sebelumnya latihan berat atau berlebihan.

  • Yang paling penting bukan seminggu off-nya, tetapi bagaimana kamu kembali berlatih.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Istirahat beberapa hari bahkan sampai seminggu dari gym bukan berarti kemunduran. Dalam kehidupan nyata, sakit, pekerjaan menumpuk, burnout, atau sekadar butuh napas sering kali memaksa seseorang berhenti berolahraga sementara. Banyak orang langsung khawatir takut ototnya hilang, berat badan naik, atau tingkat fitness-nya drop.

Padahal, tubuh manusia jauh lebih adaptif daripada yang sering dibayangkan. Penelitian tentang detraining menunjukkan bahwa perubahan fisiologis akibat berhenti olahraga tidak terjadi secepat itu, terutama jika jedanya cuma sekitar satu minggu.

Memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat kamu tidak berolahraga selama seminggu bisa membantu mengurangi rasa bersalah yang tidak perlu, dan justru membuatmu kembali berlatih dengan lebih cerdas.

1. Kekuatan dan massa otot belum banyak berubah

Dalam satu minggu tanpa latihan, penurunan massa otot biasanya sangat minimal. Studi menunjukkan bahwa penurunan signifikan baru terlihat setelah 2–3 minggu tanpa stimulus latihan, terutama pada individu yang sebelumnya aktif secara konsisten.

Pada fase awal detraining, tubuh masih “mengingat” adaptasi latihan sebelumnya. Sistem saraf dan serat otot belum kehilangan kemampuan kontraksinya secara berarti, sehingga kekuatan relatif tetap terjaga.

Itulah sebabnya banyak orang masih bisa mengangkat beban yang mirip setelah libur singkat, walaupun mungkin terasa sedikit lebih berat secara subjektif.

2. Daya tahan kardiovaskular bisa sedikit menurun

ilustrasi beristirahat di kamar (pexels.com/Kampus Production)

Berbeda dengan otot, kebugaran kardiorespirasi cenderung lebih cepat beradaptasi terhadap ketidakaktifan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa VO₂ max bisa mulai menurun dalam 7–14 hari tanpa latihan aerobik.

Namun, pada jeda satu minggu, penurunannya masih tergolong ringan dan biasanya cepat kembali setelah latihan dilanjutkan. Efek ini lebih terasa pada atlet atau individu dengan volume latihan tinggi.

Bagi orang yang berolahraga untuk kesehatan umum, perubahan ini sering kali tidak terasa signifikan dalam aktivitas sehari-hari.

3. Sensitivitas insulin bisa sedikit berubah

Aktivitas fisik berperan penting dalam membantu tubuh mengatur gula darah. Penelitian menunjukkan bahwa penghentian olahraga selama beberapa hari hingga satu minggu dapat menurunkan sensitivitas insulin, terutama pada individu yang sebelumnya aktif.

Namun, efek ini bersifat sementara. Begitu aktivitas fisik kembali dilakukan, respons metabolik biasanya membaik dengan cepat.

Ini artinya olahraga bukan cuma tentang estetika tubuh, tetapi juga kesehatan metabolik jangka panjang.

4. Tubuh mulai fokus pada pemulihan jaringan

ilustrasi santai di rumah (pexels.com/ivan samkov)

Saat kamu berhenti latihan, tubuh memiliki lebih banyak energi untuk memperbaiki cedera mikro otot, jaringan ikat, dan sistem saraf yang lelah akibat latihan berulang.

Proses pemulihan ini penting, terutama jika sebelumnya kamu menjalani latihan intens atau volume tinggi tanpa cukup istirahat. Dalam konteks ini, seminggu tanpa gym bisa menjadi bagian dari adaptasi positif, bukan kemunduran.

Inilah alasan deload atau istirahat terencana sering direkomendasikan dalam program latihan jangka panjang.

Manfaat libur olahraga selama seminggu

Istirahat singkat dapat membantu menurunkan peradangan kronis akibat latihan berlebihan. Beberapa penanda inflamasi diketahui meningkat pada individu yang terus berlatih tanpa pemulihan memadai.

Selain fisik, manfaat psikologis juga dapat terasa. Jeda latihan bisa menurunkan kejenuhan, tekanan performa, dan rasa “terpaksa” berolahraga, faktor yang sering menjadi penyebab burnout.

Dalam banyak kasus, orang justru kembali ke gym dengan motivasi lebih baik setelah memberi tubuh dan pikiran waktu bernapas.

Tanda-tanda kamu mungkin mendapat manfaat dari libur nge-gym seminggu

ilustrasi pria membawa tas gym (freepik.com/freepik)

Jika sebelum berhenti kamu merasa lelah berkepanjangan, performa stagnan, mudah cedera, atau sulit tidur, jeda latihan bisa menjadi sinyal yang dibutuhkan tubuh.

Rasa nyeri otot yang tak kunjung hilang, denyut jantung istirahat yang meningkat, serta penurunan motivasi juga sering dikaitkan dengan overreaching (kondisi ketika beban latihan—intensitas atau volume—ditingkatkan terlalu tinggi dalam waktu singkat sehingga tubuh mengalami kelelahan nyata).

Pada kondisi seperti ini, tidak berolahraga selama seminggu bukan kemunduran—melainkan strategi pemulihan.

Cara memanfaatkan hari-hari istirahat

Gunakan jeda ini untuk memprioritaskan tidur, asupan nutrisi seimbang, dan hidrasi. Pemulihan optimal tidak terjadi di gym, melainkan saat tubuh beristirahat.

Aktivitas ringan seperti berjalan santai, peregangan, atau mobilitas tetap bisa dilakukan untuk menjaga sirkulasi dan fleksibilitas tanpa membebani sistem tubuh.

Ini juga momen yang baik untuk mengevaluasi program latihan, apakah volumenya terlalu tinggi, pemulihannya cukup, dan tujuannya masih relevan?

Tips melanjutkan rutinitas latihan setelah libur

ilustrasi mesin hip abduction di gym (pexels.com/RDNE Stock project)

Saat kembali ke gym atau berolahraga lainnya, hindari langsung mengejar performa sebelum libur. Kurangi intensitas atau volume selama beberapa sesi pertama agar tubuh beradaptasi kembali dengan aman.

Fokus pada teknik, kualitas gerakan, dan respons tubuh terhadap beban. Pendekatan bertahap terbukti lebih efektif untuk mencegah cedera pasca istirahat.

Yang terpenting, jadikan olahraga sebagai kebiasaan jangka panjang, bukan hukuman setelah “bolos” seminggu.

Tidak berolahraga selama seminggu tidak otomatis merusak kebugaran atau membuat hasil latihan sebelumnya hilang. Tubuh manusia memiliki kapasitas adaptasi dan pemulihan yang besar, terutama pada jeda singkat. Alih-alih merasa bersalah, memahami apa yang terjadi selama masa istirahat justru membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan olahraga.

Referensi

"ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription." American College of Sports Medicine. Diakses Februari 2026.

Mujika, I., Padilla, S. Detraining: Loss of Training-Induced Physiological and Performance Adaptations. Part I. Sports Med 30, 79–87 (2000). https://doi.org/10.2165/00007256-200030020-00002.

Frank W. Booth et al., “Waging War on Physical Inactivity: Using Modern Molecular Ammunition Against an Ancient Enemy,” Journal of Applied Physiology 93, no. 1 (July 1, 2002): 3–30, https://doi.org/10.1152/japplphysiol.00073.2002.

"WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour." World Health Organization. Diakses Februari 2026.

Editorial Team