Institute of Medicine. "Dietary Reference Intakes for Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate." Washington, DC: National Academies Press, 2005.
European Food Safety Authority (EFSA). “Scientific Opinion on Dietary Reference Values for Water.” Diakses Maret 2026.
R. J. Maughan and S. M. Shirreffs, “Dehydration and Rehydration in Competative Sport,” Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports 20, no. s3 (October 1, 2010): 40–47, https://doi.org/10.1111/j.1600-0838.2010.01207.x.
Michael N. Sawka, Samuel N. Cheuvront, and Robert W. Kenefick, “Hypohydration and Human Performance: Impact of Environment and Physiological Mechanisms,” Sports Medicine 45, no. S1 (November 1, 2015): 51–60, https://doi.org/10.1007/s40279-015-0395-7.
David S. Ludwig, “The Glycemic Index,” JAMA 287, no. 18 (May 8, 2002): 2414, https://doi.org/10.1001/jama.287.18.2414.
Cara Menjaga Cairan Tubuh saat Puasa Selain Minum Air, Anti Haus!

Hidrasi tidak hanya berasal dari air minum, tetapi juga dari makanan, elektrolit, dan keseimbangan metabolisme tubuh.
Buah, sayuran, dan makanan tinggi air membantu menjaga cairan tubuh selama puasa.
Manajemen aktivitas, elektrolit, dan pola makan sahur–iftar berperan besar mencegah dehidrasi.
Selama lebih dari 12 jam, tubuh tidak menerima asupan cairan dari minuman selama puasa. Dalam kondisi normal, tubuh kehilangan cairan melalui keringat, napas, dan urine sepanjang hari. Ketika puasa, tantangannya adalah menjaga keseimbangan cairan tanpa minum.
Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme cerdas untuk mempertahankan hidrasi. Ginjal dapat menyesuaikan produksi urine, hormon seperti vasopresin membantu tubuh menahan cairan, dan makanan yang dikonsumsi saat sahur maupun berbuka dapat menjadi sumber air tambahan bagi tubuh. Karena itu, menjaga cairan tubuh saat puasa tidak hanya bergantung pada jumlah air yang diminum, tetapi juga pada strategi nutrisi dan gaya hidup yang tepat.
1. Mengonsumsi makanan tinggi kandungan air
Air tidak hanya berasal dari minuman. Banyak makanan secara alami mengandung air dalam jumlah besar. Buah dan sayuran seperti semangka, melon, jeruk, mentimun, tomat, dan selada memiliki kandungan air hingga 80–95 persen.
Makanan berair dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap total asupan cairan harian. Bahkan, dalam beberapa populasi, sekitar 20–30 persen kebutuhan cairan berasal dari makanan. Karena itu, memasukkan buah dan sayuran dalam menu sahur dan berbuka dapat membantu tubuh mempertahankan hidrasi lebih lama.
Selain air, makanan ini juga mengandung vitamin, mineral, dan serat yang membantu metabolisme tubuh selama puasa. Serat memperlambat pencernaan sehingga pelepasan cairan dalam tubuh berlangsung lebih stabil sepanjang hari.
2. Perhatikan asupan elektrolit

Hidrasi tidak hanya tentang air, tetapi juga keseimbangan elektrolit seperti natrium, kalium, dan magnesium. Elektrolit membantu mengatur distribusi cairan di dalam dan di luar sel tubuh serta menjaga fungsi saraf dan otot.
Kalium, misalnya, membantu mengatur keseimbangan cairan seluler. Sumber kalium yang baik termasuk pisang, alpukat, kentang, dan yoghurt. Mengonsumsi makanan ini saat sahur dapat membantu tubuh mempertahankan cairan lebih efektif sepanjang hari.
Sebaliknya, konsumsi makanan sangat asin atau ultraproses saat sahur dapat meningkatkan rasa haus karena natrium berlebih memicu tubuh untuk menarik lebih banyak cairan.
Memilih makanan yang seimbang secara elektrolit menjadi strategi penting agar tubuh tidak cepat dehidrasi selama puasa.
3. Mengatur aktivitas dan paparan panas
Cairan tubuh juga hilang melalui keringat dan respirasi. Aktivitas fisik yang intens atau paparan panas berlebihan dapat meningkatkan kehilangan cairan secara signifikan.
Peningkatan suhu lingkungan dapat meningkatkan laju kehilangan cairan tubuh melalui keringat hingga beberapa liter per hari dalam kondisi ekstrem. Karena itu, mengatur aktivitas selama puasa menjadi bagian penting dari strategi menjaga hidrasi.
Aktivitas berat sebaiknya dilakukan menjelang berbuka atau setelah berbuka ketika tubuh sudah kembali mendapatkan cairan.
Selain itu, memilih pakaian yang nyaman dan berada di lingkungan yang sejuk dapat membantu mengurangi kehilangan cairan melalui keringat.
4. Mengonsumsi makanan yang memperlambat pengosongan lambung

Jenis makanan yang dikonsumsi saat sahur juga memengaruhi bagaimana tubuh mempertahankan cairan. Karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat membantu memperlambat pengosongan lambung sehingga tubuh tidak cepat merasa lapar dan haus.
Contohnya oatmeal, roti gandum utuh, kacang-kacangan, telur, atau yoghurt. Makanan ini memberikan energi bertahap sekaligus membantu tubuh mempertahankan cairan lebih lama dibanding makanan karbohidrat sederhana yang cepat dicerna.
Makanan dengan indeks glikemik rendah membantu menjaga stabilitas metabolisme dan memperpanjang rasa kenyang selama periode puasa. Hal ini secara tidak langsung juga membantu mengurangi rasa haus.
5. Tidur yang cukup dan pola makan teratur
Kurang tidur dapat memengaruhi regulasi hormon tubuh, termasuk hormon yang berkaitan dengan keseimbangan cairan. Saat tidur cukup, tubuh memiliki kesempatan untuk mengatur kembali keseimbangan metabolisme dan hidrasi.
Selain itu, membagi pola makan secara seimbang antara sahur dan berbuka juga penting. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyerap nutrisi dan cairan secara efektif. Jika seluruh asupan cairan dikonsumsi dalam waktu sangat singkat, tubuh tidak dapat mengoptimalkan distribusinya.
Para ahli gizi sering merekomendasikan untuk membagi konsumsi cairan dan makanan secara bertahap dari berbuka hingga sahur, sambil memasukkan makanan kaya akan air dan elektrolit dalam menu harian.
Menjaga cairan tubuh saat puasa tidak hanya bergantung pada berapa banyak air yang kamu minum. Tubuh memperoleh cairan dari berbagai sumber, termasuk makanan, keseimbangan elektrolit, serta pengaturan aktivitas dan metabolisme. Dengan strategi yang tepat, tubuh dapat tetap terhidrasi meskipun saat puasa kamu tidak minum selama berjam-jam.
Referensi






![[QUIZ] Kalau Punya Anak, Kamu Bakal Jadi Tipe Bapak Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20250517/premium-photo-1664279990106-9f5c41bd7f5a-b87dbf88049ea09327ded00ec8bf5046-e7f7326c95d633244190a220a2836080.jpeg)
![[QUIZ] Cara Kamu Ngemil di Kantor Ungkap Risiko Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20250805/1000437091_25e33428-64c8-41c2-8596-b0832973e9d5.jpg)






![[QUIZ] Playlist Favoritmu Bisa Menunjukkan Cara Kamu Melawan Rasa Malas](https://image.idntimes.com/post/20250514/pexels-viralyft-16897649-8ed9de860b0ace40589a8766fe9a17d0-bcead74174e00b2d4a0e1455f0676a42.jpg)




