Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sakit Kepala setelah Lari, Normal atau Tanda Bahaya?

Sakit Kepala setelah Lari, Normal atau Tanda Bahaya?
ilustrasi lari (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Intinya Sih
  • Sakit kepala setelah lari bisa disebabkan dehidrasi, intensitas olahraga tinggi, kurang makan, cuaca panas, ketegangan otot leher, atau migrain yang dipicu aktivitas fisik berat.
  • Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tapi perlu diwaspadai jika disertai gejala seperti muntah berat, gangguan bicara, penglihatan kabur, atau kelemahan tubuh karena bisa menandakan masalah serius.
  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga hidrasi dan asupan nutrisi cukup, pemanasan bertahap, teknik lari yang rileks, serta menghindari latihan berlebihan terutama saat cuaca panas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Maunya, sih, tubuh lebih segar setelah berlari. Namun, beberapa orang setelah sesi lari justru mengalami kepala yang terasa berat, berdenyut, atau seperti ditekan darai belakang. Ada yang mengalaminya hanya beberapa menit, tetapi ada juga yang sakit kepalanya bertahan berjam-jam setelah sesi lari selesai.

Keluhan ini sebenarnya cukup umum pada pelari, terutama ketika tubuh sedang beradaptasi dengan latihan, cuaca panas, atau intensitas olahraga yang meningkat. Meski seringnya tidak berbahaya, tetapi sakit kepala setelah lari tetap perlu dipahami karena penyebabnya bisa beragam, mulai dari dehidrasi ringan hingga kondisi medis tertentu yang butuh perhatian khusus.

Table of Content

1. Dehidrasi

1. Dehidrasi

Salah satu penyebab paling umum sakit kepala setelah lari adalah dehidrasi. Saat berlari, tubuh mengeluarkan cairan melalui keringat untuk menjaga suhu tetap stabil. Bersamaan dengan itu, tubuh juga kehilangan elektrolit seperti natrium dan kalium. Jika cairan yang hilang tidak tergantikan, volume darah dapat menurun sehingga aliran oksigen ke jaringan tubuh menjadi kurang optimal. Akhirnya ini bisa memicu sakit kepala, lemas, pusing, bahkan mual.

Penelitian menunjukkan dehidrasi dapat memengaruhi fungsi otak, regulasi suhu tubuh, dan performa fisik, termasuk meningkatkan risiko sakit kepala saat olahraga endurance.

Risiko ini lebih tinggi ketika:

  • Cuaca panas dan lembap.
  • Durasi lari panjang.
  • Intensitas terlalu tinggi.
  • Pelari kurang minum sejak awal hari.

2. Intensitas olahraga terlalu tinggi

Ada juga kondisi yang dikenal sebagai primary exercise headache atau sakit kepala akibat aktivitas fisik.

Menurut International Classification of Headache Disorders, kondisi ini biasanya muncul saat atau setelah olahraga berat, termasuk lari, terutama ketika intensitas meningkat mendadak.

Rasa sakitnya sering digambarkan berdenyut, muncul di kedua sisi kepala, dan memburuk ketika tubuh terus bergerak.

Para peneliti menduga perubahan tekanan pembuluh darah di otak saat olahraga intens dapat berperan dalam memicu keluhan ini. Ketika detak jantung dan tekanan darah meningkat cepat, pembuluh darah di kepala ikut mengalami perubahan aliran yang dapat memicu rasa nyeri pada sebagian orang.

Meski sering bersifat jinak, tetapi diagnosis sakit kepala akibat aktivitas fisik tetap perlu hati-hati karena beberapa kondisi serius juga dapat menimbulkan gejala mirip.

3. Kurang makan

Seorang pria mengenakan kemeja kotak-kotak merah hitam memegang perutnya sambil menunduk dengan ekspresi lapar di latar putih.
ilustrasi lapar (magnific.com/ jcomp)

Beberapa pelari terbiasa lari dalam kondisi perut kosong atau belum makan cukup, padahal otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama.

Saat kadar gula darah turun terlalu rendah selama olahraga, tubuh dapat mengalami hipoglikemia ringan yang memicu sakit kepala, gemetar, lemas, sulit fokus, hingga mual.

Kondisi ini lebih mudah terjadi pada pelari jarak jauh, latihan pagi tanpa sarapan, atau latihan intensitas tinggi.

Karena itu, nutrisi sebelum olahraga sangat penting agar tubuh memiliki bahan bakar yang cukup selama berlari.

4. Cuaca panas

Lari saat cuaca panas membuat tubuh bekerja jauh lebih berat dibanding saat mendung atau kondisi sejuk. Pasalnya, tubuh harus:

  • Meningkatkan aliran darah ke kulit.
  • Memproduksi lebih banyak keringat.
  • Menjaga suhu inti tetap stabil.

Jika tubuh mulai kesulitan membuang panas, risiko heat exhaustion meningkat. Salah satu gejala awalnya adalah sakit kepala yang disertai rasa lemah, mual, jantung berdebar, atau pusing.

Penelitian menunjukkan olahraga dalam cuaca panas dapat meningkatkan tekanan fisiologis secara signifikan, terutama jika hidrasi kurang optimal.

5. Ketegangan otot leher dan bahu

Tidak semua sakit kepala setelah lari berasal dari dalam kepala. Postur tubuh saat berlari dapat membuat otot leher, bahu, dan rahang menjadi tegang, terutama pada pelari yang:

  • Terlalu mengangkat bahu.
  • Mengepalkan tangan.
  • Mempertahankan postur kaku terlalu lama.

Ketegangan otot ini dapat memicu sakit kepala tipe tegang, yaitu sakit kepala terasa seperti ditekan atau diikat.

Masalah ini lebih sering muncul pada pelari pemula, orang yang stres, atau mereka yang teknik larinya belum efisien.

6. Migrain juga bisa dipicu oleh olahraga

Ilustrasi seorang perempuan memegang kepala bagian kiri sambil menutup mata, menunjukkan rasa sakit akibat migrain.
ilustrasi migrain (IDN Times/Novaya Siantita)

Pada sebagian orang, olahraga intens dapat menjadi pemicu migrain. Aktivitas fisik berat diduga memengaruhi pelebaran pembuluh darah, sistem saraf, dan perubahan kimiawi di otak.

Migrain akibat olahraga biasanya disertai:

  • Nyeri berdenyut.
  • Sensitif terhadap cahaya.
  • Mual.
  • Gangguan visual.

Pemicu lain seperti kurang tidur, dehidrasi, dan panas dapat membuat migrain lebih mudah muncul setelah lari.

Kapan sakit kepala setelah lari harus diwaspadai?

Sebagian besar sakit kepala setelah olahraga memang tidak berbahaya. Namun, ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan.

Segera cari bantuan medis jika sakit kepala:

  • Muncul sangat mendadak.
  • Terasa paling berat sepanjang hidup.
  • Disertai gangguan bicara.
  • Terjadi kelemahan anggota tubuh.
  • Disertai penglihatan kabur.
  • Disertai demam.
  • Terjadi muntah berat.
  • Disertai kehilangan kesadaran.

Kondisi seperti perdarahan otak, gangguan pembuluh darah, hingga hipertensi berat juga dapat menimbulkan sakit kepala saat aktivitas fisik.

Karena itu, evaluasi medis penting jika keluhan terus berulang, makin berat, atau terasa berbeda dari biasanya.

Cara mencegah sakit kepala setelah lari

Pencegahan sakit kepala setelah lari sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Menjaga hidrasi sejak sebelum olahraga sangat penting. Jangan cuma minum setelah haus. Tubuh juga butuh asupan karbohidrat yang cukup agar kadar gula darah tetap stabil selama latihan.

Selain itu:

  • Lakukan pemanasan bertahap.
  • Hindari peningkatan intensitas mendadak.
  • Gunakan pacing yang realistis.
  • Kurangi olahraga berat saat cuaca sangat panas.

Postur tubuh saat lari juga perlu diperhatikan. Bahu yang rileks dan teknik napas yang baik dapat membantu mengurangi ketegangan otot leher.

Yang tidak kalah penting, tubuh butuh waktu pemulihan yang cukup. Kurang tidur dan kelelahan kronis dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap nyeri, termasuk sakit kepala setelah olahraga.

Sakit kepala setelah lari dapat menjadi sinyal bahwa tubuh sedang kesulitan beradaptasi terhadap tekanan fisik yang dihadapi. Kadang penyebabnya sederhana seperti kurang minum atau terlalu memaksakan pace. Namun, kadang keluhan ini juga dapat menjadi tanda adanya gangguan yang lebih serius.

Jadi, memahami pola tubuh sendiri menjadi penting dalam olahraga endurance. Lari memang menyehatkan, tetapi tubuh tetap memiliki batas.

Referensi

Martin Schwellnus et al., “How Much Is Too Much? (Part 2) International Olympic Committee Consensus Statement on Load in Sport and Risk of Illness,” British Journal of Sports Medicine 50, no. 17 (August 17, 2016): 1043–52, https://doi.org/10.1136/bjsports-2016-096572.

“Headache Classification Committee of the International Headache Society (IHS) the International Classification of Headache Disorders, 3rd Edition,” Cephalalgia 38, no. 1 (January 1, 2018): 1–211, https://doi.org/10.1177/0333102417738202.

Lawrence E. Armstrong and Carl M. Maresh, “The Induction and Decay of Heat Acclimatisation in Trained Athletes,” Sports Medicine 12, no. 5 (November 1, 1991): 302–12, https://doi.org/10.2165/00007256-199112050-00003.

American Migraine Foundation. “Exercise and Migraine.” Diakses Mei 2026.

American College of Sports Medicine. "ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription. 11th ed." Philadelphia: Wolters Kluwer, 2021.

Faisal Mohammad Amin et al., “The Association Between Migraine and Physical Exercise,” The Journal of Headache and Pain 19, no. 1 (September 10, 2018): 83, https://doi.org/10.1186/s10194-018-0902-y.

National Headache Institute. "Exercise Headaches." Diakses Mei 2026.

Vicente González-Quintanilla, Jorge Madera, and Julio Pascual, “Update on Headaches Associated With Physical Exertion,” Cephalalgia 43, no. 3 (February 14, 2023): 3331024221146989, https://doi.org/10.1177/03331024221146989.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More