Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi beras cokelat (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Beras utuh seperti cokelat, merah, dan hitam mempertahankan bekatul serta embrio biji, sehingga umumnya mengandung lebih banyak serat, vitamin, dan mineral dibanding beras putih.

  • Beras merah mengandung proantosianidin, sedangkan beras hitam memiliki antosianin dan aktivitas antioksidan tinggi.

  • Beras pratanak umumnya berindeks glikemik lebih rendah daripada beras putih, tetapi hasil dipengaruhi varietas dan pengolahan; pola makan keseluruhan tetap lebih penting daripada jenis beras.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada beragam jenis beras di rak toko. Selain beras putih, tersedia beras merah, beras hitam, beras cokelat, hingga beras pratanak. Di tengah banyaknya pilihan tersebut, tujuan kebanyakan keluarga sebenarnya tidak berbeda, yaitu menyajikan nasi yang lezat sekaligus bernilai gizi baik.

Salah satu cara memahami perbedaannya adalah dengan melihat bagian biji padi yang masih tersisa setelah pengolahan. Pada beras utuh, bekatul dan bakal tunas (lembaga atau embrio beras) masih dipertahankan. Kedua bagian ini mengandung serat, vitamin, dan berbagai mineral.

Sebaliknya, proses pemolesan yang menghasilkan beras putih menghilangkan sebagian besar komponen tersebut. Meski demikian, keunggulan gizi tidak membuat satu jenis beras menjadi pilihan terbaik untuk semua orang atau semua aspek kesehatan.

1. Beras cokelat

Beras cokelat merupakan beras yang sekamnya sudah dibuang, tetapi masih mempertahankan lapisan bekatul dan embrio biji.

Dibandingkan beras putih, kandungan seratnya lebih tinggi.

Beras ini juga menyediakan magnesium dan sejumlah vitamin B.

Teksturnya lebih kenyal dan biasanya membutuhkan waktu memasak lebih lama.

Keunggulan tersebut membuatnya menjadi pilihan untuk menambah asupan biji-bijian utuh.

Meski demikian, respons gula darah setelah memakannya tetap dipengaruhi varietas dan cara memasak. Menurut sebuah studi, perbedaan respons gula darah antara beras cokelat dan putih tidak selalu konsisten ketika waktu memasaknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

2. Beras merah

ilustrasi nasi merah (magnific.com/topntp26)

Warna merah pada lapisan luar beras terutama berkaitan dengan proantosianidin, kelompok senyawa tumbuhan yang memiliki aktivitas antioksidan.

Banyak senyawa antioksidan beras terkonsentrasi pada lapisan luarnya. Karena itu, mempertahankan lapisan tersebut membantu mempertahankan kandungannya.

Beras merah yang tidak dipoles habis dapat menjadi variasi beras utuh sehari-hari. Namun, kandungan antioksidan tidak otomatis membuktikan bahwa mengonsumsinya akan mencegah penyakit tertentu.

3. Beras hitam

Beras hitam memiliki antosianin, pigmen yang memberi warna gelap hingga keunguan. Penelitian komposisi pangan menemukan aktivitas antioksidan yang tinggi pada sejumlah varietas beras hitam. Kadarnya dapat berbeda menurut varietas dan bagian biji yang diperiksa.

Bagaimana manfaatnya pada manusia?

Tinjauan sistematis terhadap 17 uji acak mengenai beras berpigmen menemukan beberapa perbaikan pada ukuran kesehatan, termasuk penurunan kecil gula darah puasa. Namun, tidak ditemukan perbaikan bermakna pada seluruh ukuran, termasuk kolesterol LDL alias kolesterol jahat.

Peneliti menekankan perlunya studi berkualitas lebih baik. Temuan ini juga tidak menetapkan beras hitam sebagai yang paling sehat.

4. Beras pratanak

ilustrasi beras pratanak atau parboiled rice (pexels.com/Waskyria Miranda)

Beras pratanak (parboiled rice) diproses melalui perendaman, pemanasan, dan pengeringan sebelum penggilingan. Proses tersebut mengubah struktur pati, sehingga dapat memengaruhi cara tubuh mencernanya.

Tinjauan terhadap 32 uji klinis acak menemukan bahwa beras pratanak umumnya menghasilkan indeks glikemik lebih rendah dibanding beras putih tanpa proses tersebut. Indeks glikemik menggambarkan seberapa cepat makanan berkarbohidrat menaikkan gula darah. Namun, hasilnya bergantung pada varietas dan intensitas pengolahan. Tidak semua beras pratanak memberikan efek yang sama.

Setiap orang punya preferensi masing-masing dalam memilih beras. Ada yang memilih beras yang kandungan seratnya lebih tinggi, atau mencari variasi rasa dan tekstur. Beras putih pun tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Mengganti jenis beras merupakan salah satu pilihan, sementara kualitas keseluruhan makanan tetap lebih penting.

Referensi 

Harvard T.H. Chan School of Public Health, “Rice,” The Nutrition Source, diakses 15 September 2026.

Hanny M. Boers, Jack Seijen ten Hoorn, dan David J. Mela, “A Systematic Review of the Influence of Rice Characteristics and Processing Methods on Postprandial Glycaemic and Insulinaemic Responses,” British Journal of Nutrition 114, no. 7 (2015): 1035–45, https://doi.org/10.1017/S0007114515001841.

Piebiep Goufo dan Henrique Trindade, “Rice Antioxidants: Phenolic Acids, Flavonoids, Anthocyanins, Proanthocyanidins, Tocopherols, Tocotrienols, γ-Oryzanol, and Phytic Acid,” Food Science & Nutrition 2, no. 2 (2014): 75–104, https://doi.org/10.1002/fsn3.86.

Diane Mendoza-Sarmiento, Emmanuele V. Mistades, dan Alison M. Hill, “Effect of Pigmented Rice Consumption on Cardiometabolic Risk Factors: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials,” Current Nutrition Reports 12, no. 4 (2023): 797–812, https://doi.org/10.1007/s13668-023-00496-7.

Harvard Health Publishing, “Brown Rice versus White Rice: A Head-to-Head Comparison,” diakses 15 September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article