Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berapa Lama Screen Time Remaja yang Masih Wajar?

3 min read
Berapa Lama Screen Time Remaja yang Masih Wajar?
ilustrasi remaja menggunakan HP di sekolah (unsplash.com/Fajar Herlambang STUDIO)
  • Tidak ada satu batas waktu screen time yang berlaku untuk semua remaja. Jenis konten, waktu penggunaan, dan dampaknya pada rutinitas juga perlu dilihat.

  • Dua jam sehari bisa menjadi patokan praktis untuk screen time rekreasi, bukan batas medis yang otomatis menentukan sehat atau tidak.

  • Waspadai screen time yang mulai mengurangi waktu tidur, aktivitas fisik, belajar, atau interaksi langsung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

HP remaja bisa dipakai untuk banyak hal. Mulai dari mengerjakan tugas, mengobrol dengan teman, menonton video, atau bermain gim. Karena kegiatannya bisa bercampur, angka screen time harian saja mungkin belum cukup untuk menilai apakah penggunaannya sudah berlebihan.

Perlu diketahui oleh orang tua atau pengasuh anak, berapa lama screen time remaja yang masih wajar?

  1. Tidak ada angka yang pasti cocok untuk semua remaja

    American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan belum ada batas waktu layar yang terbukti cocok untuk semua anak dan remaja.

    AAP menyarankan keluarga mempertimbangkan isi dan tujuan penggunaan layar, serta apakah penggunaannya mengganggu tidur atau aktivitas lain. Keluarga dapat menyusun batas hiburan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing remaja.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan anak dan remaja membatasi perilaku sedenter, terutama screen time untuk rekreasi, tetapi tidak menetapkan jumlah jam tertentu. Bukti yang ada, menurut WHO, belum cukup untuk menentukan satu ambang waktu yang pasti.

    Sementara itu di Kanada, anak dan remaja usia 5–17 tahun dianjurkan membatasi screen time rekreasi hingga maksimal 2 jam sehari. Ini bisa menjadi titik awal yang praktis bagi keluarga, walaupun penggunaan lebih dari itu tidak selalu berarti berbahaya.

  2. Studi mengaitkan screen time dan depresi

    Ilustrasi screen time pada remaja yang menggambarkan penggunaan perangkat digital dalam aktivitas sehari-hari mereka.
    ilustrasi screen time pada remaja (pexels.com/cottonbro studio)

    Metaanalisis yang terbit pada tahun 2026 menggabungkan 73 studi dengan total 841.375 peserta remaja. Peneliti menemukan bahwa orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar cenderung lebih sering mengalami depresi. Dalam analisis mereka, hubungan ini mulai terlihat lebih jelas saat screen time mencapai sekitar 2 jam per hari.

    Namun, bukan berarti penggunaan layar selama lebih dari 2 jam akan menyebabkan depresi. Sebagian besar penelitian yang dianalisis hanya menunjukkan adanya hubungan antara keduanya, bukan sebab-akibat.

  3. Perhatikan apa yang mulai terabaikan

    Durasi screen time mungkin perlu diperhatikan jika mulai mengganggu hal-hal penting dalam kehidupan remaja.

    Misalnya, mereka tidur lebih larut atau lebih sering begadang, kurang gerak, kesulitan mengerjakan tugas sekolah, atau makin jarang menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman secara langsung.

    Penggunaan layar juga patut dievaluasi jika terasa sulit dikendalikan atau sering menjadi sumber konflik di rumah.

    Salah satu cara sederhana adalah mencatat berapa lama waktu yang digunakan untuk hiburan di depan layar selama beberapa hari. Setelah itu, orang tua/pengasuh dan remaja dapat bersama-sama menyepakati aturan yang realistis, seperti tidak menggunakan HP saat makan, mematikan notifikasi ketika belajar, atau menyimpan HP di luar kamar saat tidur.

    Jadi, jangan cuma durasi screen time saja yang dianggap penting. Yang perlu diperhatikan adalah apakah screen time masih menyisakan cukup waktu untuk tidur, beraktivitas fisik, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata.

    Referensi

    American Academy of Pediatrics, “Screen Time Guidelines,” diakses 2 November 2026.

    American Academy of Pediatrics, “Digital Ecosystems, Children, and Adolescents: Policy Statement,” Pediatrics 157, no. 2 (2026): e2025075320, https://doi.org/10.1542/peds.2025-075320.

    World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour," diakses 2 November 2026.

    Mark S. Tremblay et al., “Canadian 24-Hour Movement Guidelines for Children and Youth: An Integration of Physical Activity, Sedentary Behaviour, and Sleep,” Applied Physiology, Nutrition, and Metabolism 41, no. 6, suppl. 3 (2016): S311–S327, https://doi.org/10.1139/apnm-2016-0151.

    Dongyang Guan, Junli Wang, Qiushi Yang, and Zhi Qiao, “Nonlinear Dose-Response Relationships between Screen Time-Based Sedentary Behavior and Depression in Adolescents: A Systematic Review and Multilevel Meta-Analysis,” Mental Health and Physical Activity 30 (2026): 100766, https://doi.org/10.1016/j.mhpa.2026.100766.

    Jason M. Nagata et al., “Bedtime Screen Use Behaviors and Sleep Outcomes in Early Adolescents: A Prospective Cohort Study,” Journal of Adolescent Health 75, no. 4 (2024): 650–655, https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2024.06.006.

    American Academy of Pediatrics, “How to Make a Family Media Plan,” diakses 2 November 2026.

    American Academy of Pediatrics, “Kids & Screen Time: the 5 C’s Questions for Older Teens,” diakses 2 November 2026.

Related Articles

See More